SELISIP.com – Rumah Belajar Ciranjang sebagai wujud pelayanan kemasyarakatan GKI Cianjur di Pos Jemaat Ciranjang sudah berlangsung selama empat tahun. Perjalanan ini sudah barang tentu tidak lepas dari dukungan masyarakat setempat termasuk yang beragama Muslim. Interaksi gereja dengan masyarakat di sekitarnya dapat bergulir secara harmonis sehingga mengokohkan semangat pencerdasan yang digagas GKI Cianjur.

Sementara pembiayaan pelayanan Rumah Belajar Ciranjang selama ini masih ditopang oleh persembahan warga jemaat GKI Cianjur dan Pos Jemaat Ciranjang serta dukungan dari GKI-GKI lainnya.

Para pengajar di rumah belajar ini juga melibatkan pemuda-pemudi yang ada di Cianjur tanpa memperhatikan latar belakang agama. Pelayanan yang dilakukan pun murni untuk tujuan pencerdasan sehingga tidak dikaitkan sama sekali dengan kegiatan keagamaan.

“Awal-awalnya sih ada kecurigaan karena yang ngajak kan Pak Hendra. Beliau kan seorang pendeta. Tapi lama-lama, udah jalan empat tahun kita hanya fokus pada kegiatan belajar mengajar. Selalu kita perhatikan nggak pernah ada maksud-maksud lain yang membawa-bawa agama dalam kegiatan belajar dan mengajarnya. Jadi di sini masalah kepercayaan itu urusan masing-masing, kita bisa bekerja sama seperti biasa, nggak mau membeda-bedakanlah,” jelas Lia yang berasal dari Cipeuyeum, daerah perbatasan Bandung-Cianjur ini.

Lia juga menjelaskan bagaimana GKI Cianjur memperhatikan para pengajarnya yang sebelumnya hanya seorang lulusan SMA. Barangkali hal ini patut ditiru karena bagaimanapun masa depan pendidikan juga tergantung pada para pengajarnya.

“Sepertinya karena kepercayaan Pak Hendra pada kami, para pengajar yang jumlahnya enam orang ini, beliau mendorong kami untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Pak Hendra bilang kalau kami nggak kuliah, nanti kami nggak akan bisa jadi guru beneran. Kami nggak hanya didorong untuk kuliah, tapi biaya kuliahnya juga dibantuin. Kami bayar setengah dan sisanya dibiayai sama rumah belajar,” Lia menjawab pertanyaan tim selisip tentang pengalaman mereka selama mengajar di rumah belajar di sela-sela Persidangan Majelis Sinode Wilayah (PSMW) Gereja Kristen Indonesia Wilayah Jawa Barat ke-74.

Pengalaman menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar di Ciranjang telah membuka mata kita bahwa kemajemukan suku, ras dan agama di negeri ini bukanlah penghambat. Merujuk sila ke-3 Pancasila terlihat jelas bahwa para pendiri bangsa kita memahami betul persatuan antar semua elemen masyarakatlah yang bisa memajukan negeri ini. Dengan bersatu, masalah demi masalah yang ada di tengah-tengah masyarakat optimis bisa kita selesaikan bersama. **jfs

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.