Seorang uskup memeriksa kelayakan kelompok calon untuk dibaptis. “Dengan tanda apa orang bisa mengenal anda sebagai Katolik?” Tanyanya.

Tidak ada jawab. Jelas tidak ada yang menantikan pertanyaan itu. Uskup mengulangi pertanyaannya. Lalu ia mengatakannya sekali lagi, kali ini dengan membuat tanda salib, untuk menunjukkan kepada yang lain jawaban yang benar.

Tiba-tiba salah satu calon menangkapnya. “Cinta, katanya.

Uskup agak kecewa. Hampir saja ia berkata, “Salah,” tetapi tepat waktu ia masih menguasai dirinya. – Doa Sang Katak, Anthony de Mello
***

Keterasingan dapat merupakan akibat dari persepsi yang saudara lempar,” kira-kira begitulah kata dosen saya dahulu di suatu kelas. Beliau ingin mengatakan bahwa sebuah persepsi pun mampu menciptakan situasi keterasingan dalam masyarakat.

Keterasingan menandakan adanya sebuah situasi berjarak, minim pengenalan, bahkan ketika secara geografis, masyarakat hidup saling berdekatan. Keterasingan menyebabkan masyarakat terkotak-kotak menjadi kubu ‘kita’ dan ‘mereka’. Dalam hal ini berlaku pepatah, ’tak kenal maka ‘tak sayang.

Masyarakat yang berbeda agama seringkali gagal untuk saling menyayangi oleh karena enggan saling mengenal. Agama pun pada akhirnya menjadi tembok pemisah ketimbang jembatan yang menghubungkan para pemeluknya.

Harus diakui, kehidupan beragama di Indonesia saat ini masih diwarnai oleh hadirnya propaganda-propaganda teologis. Propaganda teologis tercermin dari kecenderungan para pemeluk agama untuk ‘membenarkan’ kelompok sendiri dan ‘menyalahkan’ yang lain.

Lihatlah kasus-kasus kekerasan yang menimpa kelompok-kelompok yang dianggap sesat oleh karena ajaran mereka yang juga dianggap menyimpang. Dalam situasi tersebut, konstruksi teologis yang “murni dan benar” dianggap sebagai tujuan akhir, bukan sebagai sarana bagi pribadi-pribadi untuk mengalami Tuhan dan mengenal sesama. Bila itu yang terjadi, tidak heran bahwa nilai-nilai kemanusiaan pun dapat dikorbankan demi sebuah klaim pemurnian agama.

Sejatinya, perbedaan bukanlah alasan bagi para pemeluk agama untuk saling melempar persepsi dan semakin terasing satu dengan yang lain. Perbedaan justru seharusnya mendorong setiap pemeluk agama untuk semakin banyak berjumpa, banyak berdialog, dan pada akhirnya semakin diubahkan oleh perjumpaan tersebut.

Berkaca dari kisah-kisah dalam Injil, pelayanan Yesus Kristus adalah sebuah pelayanan yang terbuka, penuh penerimaan terhadap orang-orang dengan berbagai latar belakang. Orang Yahudi dan non-Yahudi, orang kaya dan miskin, yang sehat dan sakit, semua disapa oleh kebaikan Yesus. Sikap-sikap tertutup dan penuh prasangka di tengah masyarakat pada waktu itu adalah hal-hal yang justru menjadi kritik utama Yesus.

Bagi umat Kristiani, menyingkirkan semangat keterbukaan yang diajarkan dan diteladankan oleh Yesus merupakan pengingkaran terhadap panggilan keimanan kita sendiri. Yesus tidak pernah merendahkan keberadaan orang lain. Lantas, apakah kita di satu sisi akan melakukannya dan di sisi yang lain tetap mengaku sebagai pengikut Kristus?

Perbedaan adalah sebuah kenyataan yang harus dirayakan dan diapresiasi. Sesungguhnya, Tuhan tidak pernah dapat secara utuh dijelaskan oleh konstruksi teologis kelompok agama tertentu. Ia jauh lebih besar dari itu! Meskipun demikian, keberadaan-Nya dapat kita deteksi.

Melalui apa? Melalui kebaikan yang terpercik dalam kehidupan ini. Maka, hati-hatilah ketika konstruksi teologis yang kita miliki justru menghalangi kita untuk melihat kebaikan dari dalam diri orang lain.

Seorang dosen saya yang lain pernah mengatakan, “To be religious is to be inter-religious.” Mengenal mereka yang berbeda agama justru membuat kita semakin mengenal agama dan keimanan kita sendiri. Semakin kita mengenal inti iman kita, semakin kita sadar bahwa cinta adalah dasar dari segala sesuatunya.

Agama-agama yang ada tidaklah sama. Agama-agama yang ada adalah berbeda, dan di dalam perbedaan itulah proses pengenalan yang bertanggung jawab akan menjauhkan kita dari keterasingan yang merusak.

Pnt. Bernadeth Florenza da Lopez S.Si, Teol
(Kader Pendeta GKI di GKI Jl. Maulana Yusuf no. 20, Bandung)

 

 

 

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.