“Bagaimana kalau Ahok pindah agama?”

Pertanyaan itu memang terbilang konyol. Melihat gaya bicara Ahok yang sangat yakin dengan keimanan Kristennya, tentu sulit untuk membayangkan suatu saat dia tidak lagi mengaku sebagai pengikut Kristus.

Ahok kini jadi magnet baru di kalangan Kristiani. Di sejumlah seminar tentang politik yang diadakan gereja, atau sekedar acara persekutuan, pria asal Belitung ini beberapa kali muncul memberi testimoni atau materi pembelajaran. Jauh lebih banyak dari kehadirannya, namanya disebut di sekian rupa mimbar Kristen. Umumnya berisi pujian. Sosoknya sering dikaitkan sebagai salah satu (kalau bukan satu-satunya) contoh teladan Kristen dalam kepemimpinan publik.

Bicara soal pemimpin Kristiani yang berkiprah buat negeri ini, sebenarnya kita bisa merujuk alternatif nama, baik di masa lalu maupun masa kini. Lalu, kenapa euforia akan Ahok sedemikian besar?

Gebrakan dan kontroversi! Itu barangkali jawaban yang pas menjelaskan meluasnya keberterimaan akan suami Veronica Tan itu di hati orang Kristen. Memimpin ibu kota dengan cara yang tidak lazim, marah-marah pada pejabat yang lamban dan disinyalir korup, menunggah rapat dan kegiatan di situs youtube, bicara tanpa direm, lalu meluncurkan sejumlah inovasi yang belum terbayang sebelumnya, semuanya memang menjadikannya tidak mungkin untuk tidak disorot.

Dari sisi positif kita bisa melihat hal ini sebagai dobrakan. Ahok menginspirasi kalangan Kristen Indonesia untuk tidak sungkan terjun menggeluti politik. Untuk tidak melihat dunia politik melului sebagai dunia hitam, yang haram dimasuki. Untuk tidak memandang politisi sekedar sebagai orang yang terkutuk, sehingga akan selalu berdosa dan bermain licik.

Ahok berani menunjukkan bahwa integritas Kristiani adalah hal yang bisa tetap diemban oleh seorang yang mengaku politisi. Bahwa orang Kristen bisa melihat politik, sebagaimana dikatakan Leimena, sebagai etika untuk melayani publik.

Namun kecintaan umat Kristiani pada Ahok bisa jadi menyimpan sentimen tersendiri. Sebab kita tak boleh menutup kemungkinan, bahwa banyak orang Kristen yang nge-fans ke Ahok, lebih karena dia seorang Kristen, yang dengan santai mengekspresikan kekristenannya di ruang-ruang publik.

Maka pernyataan “bagaimana kalau Ahok pindah agama” itu penting dijawab oleh orang Kristen yang nge-fans pada Ahok. Jika seandainya segala baik-buruk karakter dan kecakapan yang melekat pada Ahok sekarang itu tetap, namun Ahok tidak seiman dengan kita, apakah kita akan tetap sebegitu nge-fans?

Pertanyaan tadi akan membuat orang Kristen bisa lebih berjarak dalam menilai Ahok. Memisahkan mana kesukaan karena karakter dan kapabilitasnya, dengan simpati karena alasan seiman. Membuat kita bisa mendaftarkan sifat baik Ahok semisal: ketegasan, transparansi, inovasi dan kerja keras. Sekaligus kita juga bisa mendaftarkan hal-hal dimana beliau masih kurang misalnya terkait kesantunan berbicara, rendah hati dalam menanggapi kritik, kesabaran, dan sejumlah hal lain.

Pentingnya pertanyaan tadi semakin terasa dalam kontroversi belakangan ini. Saat Ahok dinilai menyinggung perasaan umat beragama lain. Pembelaan umat Kristiani hendaknya dilakukan dalam konteks memajukan demokrasi, bukan karena Ahok seiman dengannya. Pembelaan itu pun perlu membuka kritisi atas sejumlah kesalahan Ahok dalam kasus tadi.

Pertanyaan kalau Ahok pindah agama itu pun sebenarnya juga tantangan bagi gereja dan umat Kristen. Mengapa hanya Ahok? Bukankah dari rahim kekristenan seharusnya banyak muncul tokoh-tokoh berintegritas yang juga bisa menghasilkan gebrakan dan inovasi serupa bahkan lebih, terlepas akan disorot atau tidak?

Maka dari itu mari bertanya untuk mengevaluasi, bagaimana kalau Ahok pindah agama? **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.