SELISIP.com – Jumat (28/10) sekitar 250 orang menghadiri Simposium 88 Tahun Sumpah Pemuda di Grha Oikumene PGI, Jakarta. Acara yang bertajuk Optimisme Indonesia untuk Dunia ini merupakan hajatan bersama LDNU, ANBTI, PGI, MATAKIN, Maarif Institute, Jaringan Gusdurian, PA-GMNI, FMO-KAJ, Temu Kebangsan Orang Muda, Masyarakat AKUR, JAI dan ICRP.

Simposium ini dibagi dalam dua sesi. KH. Maman Imanulhaq (LDNU), Pdt. Gomar Gultom (PGI), Rm. Antonius Suyadi, Pr. (KAJ)  dan Bapak Uung Sendana (MATAKIN) merupakan tokoh-tokoh agama yang mengisi sesi pertama: Refleksi Makna Sumpah Pemuda. Pangeran Djatikusumah dari Masyarakat AKUR turut urun rembuk lewat video streaming. Tokoh-tokoh ini bersepakat ide dan semangat Sumpah Pemuda perlu terus digelorakan kembali di tengah ancaman radikalisme agama.

Kita bersyukur kita punya sejarah sumpah pemuda. Hingga akhirnya kita punya konsep tanah air. Jadi kita memiliki sejarah. Sehingga ada ingatan yang kuat sebagai satu bangsa yang utuh. Ini yang membedakan kita dengan banyak negara yang kini mengalami perpecahan,” komentar Kyai Maman.

Pdt. Gomar menyoroti bagaimana Sumpah Pemuda harusnya menjadi inspirasi bagi kaum pembela kebhinekaan. Ia menilai kelompok radikal dan provokatif jauh lebih giat dan rajin mengkampanyekan intoleransi, ketimbang kita yang mengaku mendukung kebhinekaan. Oleh karenanya, Sumpah Pemuda perlu dimaknai sebagai semangat untuk berani menyuarakan sikap melintas sekat-sekat primordialisme.

Sesi kedua diisi oleh kaum muda yang merefleksikan Sumpah Pemuda dalam konteks aktivitas manusia masa kini. Destina Nawriz (Masyarakat Baha’i), Lucyana Devita, Sari Wijaya dan Inayah Wahid berbagi tentang apa yang mereka tengah kerjakan dalam memaknai keberagaman dan perdamaian.

Antuasiasme peserta sangat terasa di sesi ini. Ketika Sari Wijaya berbagi tentang pengalamannya yang pernah ikut dalam kelompok radikal agama, dan perubahannya menjadi seorang yang pro pada kebhinekaan, penonton tak henti memberikan applaus.

sumpah-3

Kemeriahan sesi kedua ditutup dengan apik oleh Inayah Wahid, saat ia bermonolog akan harapannya bagi kebhinekaan Indonesia. Putri bungsu Gus Dur ini meramu puisi yang penuh optimisme sekaligus menaruh satir atas berbagai situasi sosial-politik terkini di Indonesia.

Dalam komentarnya anak-anak muda ini bersepakat bahwa kegiatan momentumal seperti ini perlu diimbangi dengan dengan semangat yang sama dalam aktivitas keseharian.

Pemuda itu ibarat pohon yang akan terus tumbuh. Kehidupannya tidak sekedar satu dua kali acara. Perlu terus dirawat sampai akhirnya memberi buah,” komentar Destina dari Masyarakat Baha’i.

Kegiatan Simposium ini merupakan satu rangkaian peringatan Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan. Direncanakan pada Minggu selepas Hari Pahlawan (13/11), akan diadakan pula refleksi Hari Pahlawan dalam nuansa berbagai tarian dan musik tradisional Indonesia. Dalam sambutan penutup, Abdiel, salah seorang panitia, turut mengajak setiap orang untuk turut berpartisipasi dalam acara yang akan digelar di momen Car Fre Day Bundaran HI Jakarta itu. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.