Biasanya, sebelum melakukan tanya jawab kepada setiap narasumber, saya selalu ingin tahu latar belakang setiap pembicara yang akan diwawancarai. Singkatnya, beberapa hari sebelum tanggal yang sudah ditentukan untuk talkshow tentang bagaimana rasanya ketika Tuhan memanggil seseorang yang sangat kita kasihi, yang diberi judul “SEPARUH JIWA”, saya menghubungi dua narasumber.

Saya pun kemudian menghubungi narasumber pertama dan kami berjanji melanjutkan pembicaraan malam hari. Setelah itu, saya mengontak Pak Prabowo, orang kedua yang akan saya tanyai banyak hal dan saya sudah mendaftarkan beberapa pertanya. Namun, setelah saya hubungi, Pak Prabowo meminta alamat email saya. Kata beliau, “Saya sudah tuliskan latar belakang saya, silahkan dibaca dulu, nanti kontak saya lagi yah…”

Tak lama, kiriman email pun saya terima. Entah saya mimpi apa semalam, saya menjadi tak berani mengontak beliau setelah membaca suratnya, sebagai berikut:
———————————————————————————-

Acara Bulan Keluarga Kamis, 13 Oktober 2016 di GKI Kebonjati

Kronologis singkat pengalaman hidup saya

Nama Lengkap:  Prabowo Bharata Putra
Lahir di Yogyakarta 23 Nopember 1953
Nama Alm. Istri:  Anna
Profesi saya:  Psikolog
Pekerjaan: Konsultan
Pengalaman pelayanan: Pernah menjadi Majelis di GKI Kebonjati di bidang PA & Bina Jemaat, Pendamping Remaja Pemuda, Kespel dan BPMJ.
Menjadi pengurus di Badan Pelayanan milik GKI (GKI Care Centre, Bianglala Nanda, Talitakum dan Bumi Baru).
Usia : 63 tahun

Kedua orang tua saya dokter. Masa kecil di Yogya dan Madiun dibesarkan dengan latar belakang keluarga Jawa Kristen. Saya selesai studi sebagai Psikolog tahun 1983.

Menikah pada tahun 1986, dan baru dikarunia anak pada tahun 1991.
Disinilah saya mengalami peristiwa pencobaan pertama dari Tuhan; dimana anak yang saya nantikan kelahirannya selama hampir 5 tahun lahir dengan kondisi penyakit Cerebral Palsy (Cacat Otak), saat ini anak saya Stanley berusia 25 tahun dengan kondisi phisik lumpuh total. Untuk bisa menerima kondisi ini saya butuh waktu setahun lebih dengan suport dan dorongan kedua orang tua saya.

Akhir tahun 1993, ke dua orang tua saya mengalami kecelakaan pesawat CN 135 yang menabrak gunung Puntang di Garut; meninggal berbarengan, bagi saya ini merupakan pencobaan kedua dari Tuhan; karena mereka yang aktif mensuport pengobatan dan penyembuhan Stanley anak saya. Ke dua orang tua saya adalah dokter senior di Indonesia saat itu yang karena jabatan dan pergaulannya anak saya Stanley bisa mendapatkan penanganan ‘baik’.

Puji Tuhan saya dapat cepat mengatasi ‘pukulan’ ini, karena pada tahun 1994, lahir anak saya Stella dengan kondisi phisik sehat, cerdas dan memiliki karakter yang menyenangkan. Diikuti dengan lahirnya anak saya yang ke 3 Cinthya pada tahun 1996. Kelahiran Stella saat itu membawa semangat baru bagi saya dan Anna istri saya untuk ‘bangkit’ dalam kehidupan, apalagi setelah kehadiran Cinthya.

Beberapa bulan setelah Cinthya hadir dalam kehidupan kami, Stella dinyatakan mengidap cancer oleh dokter dan akhirnya meninggal pada tahun 1997. Pencobaan ketiga yang cukup berat buat saya; Dampak dari tiga pencobaan ini saya banyak mengalami pembelajaran mengenai kehidupan yang sangat berpengaruh pada karakter saya baik sebagai Psikolog maupun sebagai orang Kristen.

Sebagai psikolog saya merasa bisa menjadi lebih ‘bijak’, sedangkan sebagai orang Kristen saya bisa mengerti apa itu ‘kehendak Tuhan’ dan bisa lebih merasakan “kehadiran Tuhan” dalam kehidupan saya.

Perjalanan hidup sejak tahun 1997 sampai 2011 kami jalani bersama dengan yakin Tuhan menyertai perjalanan kami sekeluarga. Persoalan-persoalan yang kami hadapi bisa dikatakan persoalan-persoalan biasa yang dihadapi oleh setiap rumah tangga pada umumnya.

Persoalan ‘besar’ yang kami hadapi adalah ketika sekitar tahun 2009, Anna istri saya dinyatakan cancer. Dalam menjalani proses berobat memang merepotkan hanya pandangan kami saat itu adalah berupaya semaksimal mungkin melakukan apa yang mampu kami lakukan sambil menyerahkan semunya pada Tuhan.., biar kehendak Tuhan yang jadi…

Ketika akhirnya istri saya meninggal di tahun 2011 secara mental dan phisik saya sudah siap; karena Tuhan sudah mendidik dan mempersiapkan saya untuk menghadapi hal-hal seperti ini. Kematian bukan hal yang menakutkan lagi bagi saya dan istri saya pada waktu itu ; kami berdua menyadari bahwa itu hak preogative Tuhan.

Kehidupan tanpa istri
Pada usia saya yang sudah 60 tahunan dan dengan keyakinan Tuhan ada bersama saya, maka tidak ada masalah buat saya untuk menjalani kehidupan sebagai seorang duda.

Penyesuaian pertama yang saya lakukan sebagai seorang duda adalah mencoba membenahi kehidupan saya supaya tidak jadi “bahan omongan atau bahan gosip” tetangga, lingkungan dan keluarga besar; bukan hal mudah buat saya, karena Stanley perlu suster untuk merawat, sedangkan kalau ada suster dirumah saya akan muncul omongan yang kurang baik dari lingkungan. Sedangkan saat itu anak saya Cinthya masih kuliah dan memilih kos didekat kampusnya. Sebenarnya hal ini bisa diatasi dengan merekrut suster dan pembantu bersamaan (jadi ada 2 wanita), tapi karena beberapa pertimbangan lebih dalam saya memilih untuk merawat Stanley sendiri.

Hal diatas membuat rutinitas kerja saya juga berubah, karena saya harus menjalankan tugas ibu rumah tangga juga; misalnya masak bubur dan sayur untuk Stanley.

Masalah lain buat seorang duda adalah saya kehilangan teman diskusi yang bisa memberi pertimbangan ketika harus mengambil keputusan. Saya juga kehilangan seorang supervisor, sekertaris dan bendahara.

Rasa kesepian; karena terjebak dengan hal-hal rutin yang kadang jadi membosankan; dan karena kondisi Stanley maka sulit buat saya untuk membawa stanley jalan-jalan atau piknik misalnya.

Kehilangan pasangan menyebabkan saya juga tidak punya orang yang mengontrol tindakan-tindakan saya, orang yang bisa memperingatkan, mengingatkan bahkan menegur ketika suatu tindakan dilaksanakan.

Canggung kalau harus menghadiri kegiatan-kegiatan sosial yang biasa dihadiri berpasangan, misalnya undangan pernikahan, reuni dsb. Beberapa kali saya menghadiri acara seperti ini; yang terjadi saya merasa sedih dan kosong. Saat ini saya cenderung menghindari acara-acara semacam ini.

Berkumpul dengan keluarga besar juga akan membuat perasaan sedih muncul kembali. Ketika mengalami kesulitan Financial tidak ada yang membantu; dalam arti ketika masih ada istri sumber penghasilan bisa kita cari bersama; sekarang hanya sendiri.

Kesimpulan
Hidup adalah pembelajaran dari Tuhan; bila dimasa lalu saya belajar menjadi pandai untuk bisa mengubah dunia, sekarang ini saya belajar untuk menjadi bijaksana agar bisa mengubah diri saya sendiri.

Menjadi seorang Psikolog dan pelaku Firman yang baik tidak cukup kita cari dari literatur, seminar-seminar atau kuliah yang kita ikuti; bukan juga dari mengikuti PA atau Pembinaan dari gereja; tapi sebagai hasil pembelajaran kehidupan nyata.

Untuk ini kita harus mencoba untuk terus menerus membentuk karakter dan hidup kita menjadi semakin baik, benar dan sempurna. (Meskipun untuk tiga hal ini baik, benar dan sempurna tidak ada batasannya).**bdjt

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.