Pepohonan rindang, kamar–kamar teratur, ruang–ruang bersih dan suasana tenteram adalah karakteristik dari PWK Hana. Perubahan bentuk dari yayasan ke Unit Pelayanan dan sekarang menjadi Badan Pelayanan GKI SW Jabar dengan supervisi dari Klasis Jakarta Utara sama sekali tidak mempengaruhi suasana itu.

Walaupun jauh dari sempurna, dalam usia ke 26, BPPWK Hana terus menerus mengejar jatidiri sebagai lembaga yang menyediakan pelayanan pendampingan lansia yang menjawab kebutuhan zaman.

Idealnya, PWK Hana bercita–cita mengembangkan konsep paguyuban lansia modern, yang didalamnya, para pensiunan profesional dapat berkumpul dan bersekutu, serta berbagi pengalaman dan keahlian mereka, demi meneruskan produktivitas masa muda mereka. Untuk sampai pada cita–citanya PWK Hana yang terletak Jl. Panti Werda Hana No. 52 Kedaung-Pamulang, Ciputat 15415, telah memulai upaya peningkatan sarana dan prasarana yang membuat opa–oma melihat hidup lebih hidup.

Pelayanan PWK Hana yang sudah tercetus sejak 47 tahun lalu, nampaknya mewujud dalam keindahan yang dirasakan oleh 54 Oma dan 16 Opa yang saat ini tinggal di sana. Dorongan terhadap gagasan PWK Hana datang dari  persembahan sebesar Rp. 35.000,- dari perkawinan perak anggota GKI Gang Kelinci (kini: GKI Samanhudi) yaitu bapak Tan Ngo Liong dan nyonya di tahun 1959. Setelah melewati pergumulan panjang akhirnya Ibu Maria Wijaya, Ibu Tjoa Ping An , Pdt. Em. Martin Jonatan dan kawan-kawan, melembagakan PWK Hana menjadi yayasan, pada 16 Maret 1980.

Tak ada satupun penghuni PWK Hana pengidap progeria, proses cepat penuaan dini pada orang muda. Menjadi uzur adalah suatu proses alamiah. Pasti akan dialami oleh semua orang. Namun di kemudian hari membaiknya upaya medis, maka usia harapan hidup rata-rata 50 menjadi 60 bahkan 70 Tahun ke atas. Itu berarti, makin banyak kaum lansia yang masih ada bersama golongan lainnya.

Keadaan yang membaik itu sekaligus juga membawa masalah pada sebagian keluarga. Opa dan Oma, merasa kesepian di rumah, karena semua anak dan menantu pergi bekerja dan semua cucu pergi ke sekolah. Ketika terjadi sesuatu pada mereka, tak ada yang menangani dan merawat. Itu sebab lahir panti werda. Berbeda dari pandangan zaman dahulu tentang sebuah panti jompo (tempat orang tak berdaya dan terlantar), para penghuni Panti Werda bukanlah orang jompo.

Opa-oma yang sebagian besar adalah anggota GKI yang mula-mula merasa agak asing, tapi lama kelamaan mereka beradaptasi dan saling akrab. PWK Hana menjadi satu komunitas lansia yang dapat menyegarkan. Di bawah pohon rindang yang ada di PWK Hana, opa-oma berbagi kasih Tuhan, saling menguatkan, saling mendukung, dan saling mendoakan.

Dalam rawatan kasih PWK Hana mengikut sertakan pelayanan jemaat-jemaat GKI di Jakarta, khususnya GKI-GKI di sekitar Ciputat, pamulang, serpong. Setiap kebaktian minggu di PWK Hana dilayani oleh jemaat-jemaat GKI secara bergilir. Inilah kelebihan PWK Hana, karena dengan melibatkan jemaat-jemaat GKI, opa–oma selalu mempunyai kontak dengan komunitas gereja asalnya.

Dalam rawatan kasih kasih itu, di dalam kompleks ini juga konsep pendampingan lansia dikembangkan dan diterapkan. Program–program diadakan untuk lansia: kerajinan tangan, olahraga ringan, doa dan ibadah.

Selain itu, dilaksanakan konseling dan pastoral guna menangani rasa takut dan emosi-emosi childish, jengkel, sedih, rasa ditinggalkan, yang dapat memulihkan ketentraman batin opa–oma di masa lansia.

Sebagaimana diajarkan iman kristiani, setiap penghuni PWK Hana, akan siap menghadap Tuhan dengan hati berserah, serta mengharapkan kehidupan kekal bersama Tuhan selamanya.

Dengan sikap kristiani inilah bergema  kata-kata Paulus, “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini di bongkar,  Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.” (2Korintus 5 : 1). Namun selagi hayat masih dikandung badan, berlaku Firman Tuhan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”(Filipi 1 : 21). ** Jusak Ismanto Indrawan

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.