Kita tentu memiliki tokoh yang diidolakan di dalam Alkitab. Tak jarang ketika ditanya siapa tokoh yang diidolakan tersebut, sebagian besar menjawab Ayub. Yah, Ayub menjadi idola karena kesetiaanya kepada Allah.

Ayub mendapati pencobaan yang tidak biasa dihidupnya, seluruh ternaknya dirampas, 7 anak laki-laki dan 3 anak perempuannya mati karena angin ribut yang merobohkan rumahnya, serta penyakit kulit disekujur tubuhnya. Bahkan isteri yang dikasihinya memintanya untuk mengutuki Allah dan mati.

Di atas semua penderitaan itu, Ayub diceritakan tetap menjaga kesetiaanya kepada Allah. Yah, memang Ayub tetap setia, namun terlepas dari itu Ayub hanyalah manusia biasa yang merasakan lelah dan goyah.

Ada beberapa perbuatan Ayub yang tak seharusnya diidolakan. Ayub adalah seorang yang dipenuhi rasa kuatir. Penderitaan yang dialaminya tersebut ternyata hal-hal yang ditakuti dan dicemaskannya selama ini (Ayub 3:25), hal ini menjadi bukti bahwa ada keraguan dalam hati Ayub dan tidak menyerahkan kepada Allah segala bentuk kekuatirannya. Padahal, Allah meminta kita untuk tidak kuatir (Mazmur 55:22).

Ayub bukanlah seorang yang menerima dengan ikhlas segala penderitaannya, dia juga memiliki akar kepahitan didalam dirinya (Ayub 7:11). Diwaktu yang lain, Ayub terlihat sangat percaya diri. Sifat Ayub yang demikian seolah menunjukkan Ayub terlalu membenarkan dirinya (Ayub 31:6).

Ayub berpikir bahwa Allah menghempaskannya dan tidak menghiraukannya saat ia meminta pertolongan, bahkan Ayub menganggap Allah kejam dan bermaksud membawanya ke dalam maut. Ditengah keputusasaannya pun dia sempat mempertanyakan keadilan Allah atas dirinya padahal Allah tak pernah berlaku curang dan membengkokkan keadilan.

Sikap Ayub ini menunjukkan bahwa Ayub sebelum bertemu Tuhan pernah melakukan hal-hal yang tidak patut untuk diteladani. Sesudah Ayub bertemu Tuhan, ia menjadi pribadi yang baru dan semakin taat.

Kita perlu mengetahui sikap Ayub sebelum bertemu Tuhan, agar kita tak selalu dicekoki hal yang baik dari Ayub tanpa mengetahui cerita dibaliknya. Dari kisah Ayub kita belajar bahwa mengidolakan seorang tokoh bukan berarti menerima sikapnya yang baik dan menutup mata akan sikapnya yang buruk. **yst

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.