Mengenal Indonesia rasanya tak cukup hanya dengan menjelajahi indah pesona alamnya. Mencintainya pun, lagi-lagi tak cukup hanya mengerti sejarah singkatnya. Cintamu akan semakin gila ketika kau tahu ada banyak jiwa yang gugur saat berjuang untuk negeri ini. Dan apa yang kita rasakan kini adalah buah dari pertumpahan darah kala itu.

10 November diperingati sebagai hari untuk mengenang mereka yang berjuang rela mati demi negeri ini. Sejenak kulayangkan pikiranku, mencoba menggambarkan detik-detik perjuangan heroik mereka membela negeri ini lewat buku-buku sejarah yang kubaca. Seketika aku teringat akan cerita seorang pejuang wanita dari Maluku bernama Martha Christina Tiahahu. Wanita yang lahir 4 Januari 1800 itu menapaki jalan hidup yang tak mudah. Saat balita ibunya sudah dipanggil kembali ke rumah Bapa. Ia tumbuh dan besar ditemani ayahnya Kapitan Paulus Tiahahu.

Martha Christina tumbuh menjadi gadis pemberani dengan daya juang tinggi. Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, beliau turut mendampingi sang ayah dan rekannya Kapitan Pattimura untuk mengusir penjajah dari Maluku. Bahkan ia mampu menggerakkan para wanita untuk mendampingi pejuang pria di medan perang. Berkatnya Belanda dibuat kerepotan di Maluku.

Satu kali, perjuangan mereka menjadi kian keras. Serangan demi serangan datang dari pasukan Belanda yang sakit hati atas kematian pimpinannya di medan perang. Imbasnya rakyat semakin ditekan. Tak lama setelah itu pasukan Maluku pun dipukul mundur Belanda dengan modal persenjataan mereka yang lebih memadai.

Martha Christina dan ayahnya serta beberapa pejuang lain ditangkap dan dibawa Belanda untuk diinterogasi. Martha Christina terbebas dari segala hukuman karena masih sangat muda, sedangkan ayahnya dijatuhi hukuman mati oleh Belanda.

Mendengar keputusan itu, Martha Christina semakin marah dan geram. Namun, Ia menahan amarahnya dan merendahkan dirinya memohon pengampunan agar ayahnya dibebaskan dari hukuman mati. Tapi permohonannya ditolak, tepat tanggal 17 November 1817 sang ayah dieksekusi mati.

Perasaannya hancur melihat ayah yang begitu dikasihinya mati di tangan Belanda. Namun, semangat juangnya tak berhenti disitu. Belum usai kepedihan itu, ia mengambil tombaknya dan kembali melakukan perlawanan. Dia bahkan disebut-sebut telah kehilangan akal karena keluar masuk hutan bergerilya tanpa rasa takut.

Tepat sebulan setelah kematian sang ayah, Martha Christina bersama 39 orang lainnya ditangkap oleh Belanda. Mereka dipaksa naik ke atas kapal untuk diasingkan ke Pulau Jawa. Selama diperjalanan, Martha Christina tetap memberontak dengan aksi mogok makan. Tubuhnya pun melemah dan jatuh sakit. Di tengah kondisi itu, dia tetap menolak semua bentuk pengobatan.

Tepat diawal tahun 1818, Martha Christina menyusul ayahnya kembali ke pangkuan Bapa. Perjuangan Martha Christina berhenti disana, di tengah laut Banda tempat jasadnya berada. Tugasnya pun usai sudah, namun semangatnya yang membara itu menular membakar bara di dada rekan seperjuangannya. Cerita hidup Martha Christina tak hanya menginspirasi, ia juga meninggalkan banyak teladan bagi orang muda dalam melayani.

Saat ini medan pelayanan kita memang tak sama dengan Martha Christina kala itu. Kita tak harus berperang melawan penjajah, tak perlu keluar masuk hutan pula untuk bergerilya. Tugas kita hanya melanjutkan perjuangan Martha dan pahlawan lainnya. Melayani untuk Tuhan dan untuk Indonesia sekalipun diusia yang masih sangat muda. **yst

**sumber foto:koperkuning.com

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.