Awalnya sih cuma diminta tolong, nyebutin program pemuda yang ada di GKI Kemang Pratama. Eh tahu-tahunya langsung diboyong aja ke rapat pemuda klasis. Dijebak nih sama Ko Fandy,” Vita Veronica Tengker tersenyum mengenang keterlibatan awalnya di pelayanan pemuda GKI lingkup Klasis Jakarta Timur. Ia menyebut nama ketua pemuda klasisnya itu dengan nada bercanda sebagai provokator dan penjebak.

Vita yang menjadi tim media di GKI Kemang Pratama ini mengaku senang dan menikmati perannya sebagai tim acara dalam Camp Pemuda Klasis Jakarta Timur Sabtu-Minggu (5-6/11) lalu. Kepanitiaan di acara ini umumnya diisi oleh mereka yang kini tengah menggeluti dunia kerja.

Rata-rata sibuk. Tapi untungnya bisa saling back-up. Koordinasi kebanyakan via sos-med. Kadang konflik juga sih, sampe kadang left group, tapi balik lagi. Ya, enjoy aja…,” pemudi yang gemar fotografi ini menceritakan sedikit rahasia dapur kepanitiaan yang dijalaninya. Ia sendiri kadang harus bertukar peran di kepanitiaan, mengisi pos yang kadang ditinggal rekan lain karena kesibukan kerjanya.

Apa yang diceritakan Vita memang menggambarkan trend yang sudah sedemikian lazim bagi pelayanan pemuda. Hal yang mungkin sudah berbeda bahasa dengan kebanyakan pelayan gereja umum yang diisi warga dewasa. Dimana tiap bidang bekerja dengan patokan program dan rekruitmen yang baku.

Vita sendiri sejak kecil memang suka dengan kegiatan gerejawi. Menurutnya hal ini cukup banyak membentuk pribadinya. Ia meyakini banyak juga pemuda-pemudi seperti dirinya, yang bahkan senang-senang saja mengerjakan pelayanan, meski sering jadi agak repot dan melelahkan.

Namun Vita menggarisbawahi pendekatan yang dilakukan memang harus berbeda.

Pemuda sekarang itu senangnya having fun. Juga pendekatannya memang personal touch. Jadi tidak dalam acara dan struktur yang harus baku. Atau langsung ditunjuk ini-itu tanpa mengedepankan kedekatan. Salah satu alasan kenapa metode komsel lebih disukai ya karena ada unsur fun dan personal itu,” jelas Vita.

Vita akhirnya melihat pentingnya peran jembatan agar hal yang disukai itu bisa dibuat lebih strategis bagi pelayanan. Baginya pemimpin pelayanan pemuda tingkat Klasis sejauh ini sedang mengarah ke hal tersebut. Pemuda-pemudi yang terlibat mungkin lebih suka pada kebersamaan dan having fun-nya, tapi program yang dirancang diharapkan oleh Vita mengarah ke perbaikan.

Tuntutan ini tentu semakin terasa bagi pelayanan pemuda di perkotaan yang kebanyakan diisi kaum pekerja. Kesibukan mereka menuntut sifat pelayanan yang dinamis dan fleksibel. Banyak sebenarnya pemuda yang bisa memberikan hati, tenaga, waktu dan kompetensinya bagi pelayanan, bahkan untuk rentang waktu yang relatif panjang di usia mereka.

Setahun dua tahun ke depan bakal masih aktif di pemuda kok. Mudah-mudahan program pemuda klasis bisa jalan. Jadi bisa memberi ide-ide segar juga buat di jemaat lokal,” harap Vita sekaligus memberi contoh pada kita bahwa banyak tunas-tunas muda yang potensial dan masih mau membangun pelayanan. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.