Tuhan saya pengen punya kerjaan… punya duitlah…

Doa sederhana itu diserukan Andy Agus Gunawan saat ia masih kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha. Kondisi keuangan keluarga yang sedang dalam krisis, membuat ia harus mencari cara agar bisa mencukupi sejumlah kebutuhan.

Siapa sangka permohonan kecil itu ternyata membuka banyak cerita baru… Bermula dari tawaran untuk mengajar les ke seorang anak, Andy merasa doanya langsung bertuah jawaban.

Ia memang suka mengajar. Selepas SMA, Andy masih sering berkunjung ke almamaternya di SMAK BPK Penabur 2 Bandung. Membantu OSIS, mengajar adik-adik juniornya, hingga membawakan renungan di acara kerohanian. Selepas tawaran tadi, Andy baru sadar bahwa pekerjaan mengajar les merupakan sarana mudah bagi mahasiswa sepertinya, untuk mencari tambahan finansial.

Tapi, Andy malah menghadapi tantangan baru. Samuel, anak yang diajarnya adalah seorang penyandang tunarungu. Orang tua Samuel sengaja menyekolahkan si anak di sekolah biasa, sembari memberi sejumlah pelajaran tambahan. Andy mencoba sekeras mungkin, namun enam bulan kemudian ia mulai putus asa. Lesnya sempat mandek…

Loh bukannya waktu itu ada yang bilang: Tuhan itu baik kasih aku pekerjaan? Kenapa sekarang jadi tidak bertanggung jawab? Kalau memang tidak bisa, ya bilang. Jangan mandek dan menggantung begini. Bagaimana mau dikasih tanggung jawab besar, kalau tanggung jawab seperti ini diabaikan?

Teguran muncul dari Ibu kandung Andy, saat si guru les ini mulai terlihat setengah hati. Kata-kata itu amat terasa gemanya, selain karena ibunya seorang saleh, juga karena Andy sudah semakin belajar untuk mengenal kehendak Tuhan bagi hidupnya. Si guru les ini pun memutuskan untuk menemui lagi orang tua anak lesnya. Ia berniat mundur secara baik-baik.

Dengan bahasa seadanya, Samuel memeluk Andy memohon agar ia tidak berhenti. Hati Andy luluh. Ia gamang. Apalagi orang tua Samuel kemudian memperkenalkan cara baru untuk berkomunikasi cepat dengan kaum tunarungu. Andy diberi bacaan The Joy of Signing, yang membuatnya mampu belajar bahasa isyarat. Ia pun serius belajar sampai mahir. Andy dan Samuel kini mampu berkomunikasi lebih baik.

Cerita Andy berhenti? Ternyata belum. Saat Samuel berulang tahun, keluarganya mengadakan persekutuan kecil untuk syukuran. Yang hadir sekitar dua puluhan kawan Samuel dari komunitas tunarungu. Andy diminta menyampaikan renungan di persekutuan itu. Tentunya dengan bahasa isyarat.

Baru disitu saya sadar,” aku Andy. “Tuhan tidak sekedar memberikan anak les. Tuhan sedang menunjukkan pada saya, ada komunitas di Bandung yang tidak terlayani. Saat saya sudah siap, ladang pelayanan itu dibukakan.

Yang hadir di komunitas itu kemudian beberapa kali beribadah di GKI Pasirkoja, tempat Andy berjemaat. Pendeta waktu itu, alm. Pdt. Peter Then, menyambut dengan hangat, bahkan memberi tempat khusus. Meski awalnya butuh penyesuaian, komunitas ini berkembang. Dari sekitar dua puluhan, menjadi enam puluh lebih. Pdt. Peter, Andy dan rekannya Ernest, bahu-membahu memulai persekutuan yang akhirnya menjadi komisi tersendiri di GKI Pasirkoja itu.
**

Cerita itu menguatkan Andy menjalani dunia pendidikan dalam cakupan yang lebih luas. Melihat banyak ladang yang belum terlayani. Pria kelahiran 22 November 1977 ini mencatat pelayanan sekolah minggu, pelayanan remaja dan pemuda serta pelayanan bagi penyandang disabilitas sebagai hal-hal yang dibukakan Tuhan untuk jadi ladang panggilannya.

Andy turut membangun Yayasan Bianglala Nanda, yang membantu pendidikan bagi penyandang autisme. Andy juga bekerja sebagai guru BK di SMAK BPK Penabur 3. Kini, ia menjadi Kepala Urusan Pendidikan dan Latihan di Yayasan BPK Penabur Bandung.

Lantas bagaimana ia menilai pendidikan Kristiani?

Sekarang ini ada kekeringan. Kita kehilangan cerita kehidupan yang menginspirasi. Padahal cerita yang hidup itu yang lama membekas, seperti yang saya alami. Cerita itu yang kemudian melahirkan cerita baru dari para murid,” jawab Andy.

“Jadi, bukan sekedar mengajar ilmu lalu selebihnya soal bayaran,” tambahnya. “Saat ini kami coba upayakan kembali di Penabur, agar selain mengajar ilmu, guru juga menginspirasi lewat cerita hidupnya. Awalnya sulit, tapi kini banyak sekali yang bersemangat.

Andy masih menuturkan sejumlah cerita inspiratif lain dalam wawancara dengan SELISIP pada pagi hari Sabtu (3/12) itu. Agaknya ia menyadari kehausan akan cerita yang menginspirasi, perlu terus dipenuhi. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.