Ia tergolong orang yang murah senyum. Beberapa kali bahkan terbahak dalam gelak tawa. Tapi kalau mulai bicara hal-hal kontroversial, raut mukanya langsung serius. Terlihat sangat hati-hati dalam memilih kata-kata. Pria yang hampir menginjak usia lima puluh enam tahun ini kerap mengulang frasa: “Kalau dalam bahasa kasarnya sih…” Meski sebenarnya kalimat setelah itu masih terbilang sangat halus.

Gambaran itu semakin terasa saat SELISIP bertanya sejumlah hal terkait kiprah pelayanannya sebagai orang yang telah menjadi pendeta di GKI selama dua puluh tiga tahun. Ada kehati-hatian dan ketenangan, walaupun ia tetap dekat dengan rekannya berinteraksi.

Dengan tampilan yang demikian Pdt. Ujang Tanusaputra nampaknya memang pas untuk menjadi seorang yang mendampingi jemaat, di tengah banyak perbedaan dan bahkan pertentangan. Warga GKI dan para pegiat toleransi di Indonesia tentu mengingat perannya saat menjadi pendeta di GKI Pengadilan sembari menemani kasus GKI Yasmin, Bogor selama 2006-2014. Hal yang tentu sangat menyita banyak energi dan emosi, siapapun orang yang ditempatkan di posisi itu.

Tapi itu barulah sebagian kisah mengenai Pdt. Ujang. Beberapa kali ia memang menghadapi kondisi dimana jemaat yang dilayaninya perlu untuk melakukan sejumlah rekonsiliasi dan perbaikan relasi. Pelayanannya kini di GKI Cimahi pun merupakan permintaan jemaat karena ada sejumlah hal yang perlu diperbaiki dalam tubuh jemaat yang sudah mencapai usia enam puluh lima tahun itu. Ia bersama Pdt. Sutanto Teddy kini bahu-membahu dengan seluruh majelis dan warga jemaat membangun kembali GKI Cimahi yang tengah mengalami banyak transisi. [Baca: GKI Cimahi Berkembang dalam Transisi].

“Konflik itu sebenarnya merupakan proses,” serunya tenang, sembari mendabarkan kisah-kisahnya. “Yang penting saya fokus mengerjakan pelayanan, tidak ada yang diabaikan. Semuanya perlu didengar, tapi tetap harus ada keputusan yang diambil, yang bisa mengakomodasi semua. Tidak terburu-buru atau malah jadi arogan.”

Bagi lulusan Fakultas Teologi UKDW ini, pertentangan yang dihadapinya dalam berbagai pelayanan kebanyakan dikarenakan permasalahan komunikasi dan penyampaian semata. Meski sangat mungkin ada perbedaan yang prinsipil, sebenarnya ada jalan yang harusnya bisa mendengarkan semua pihak. Sayangnya, kadang banyak orang memilih untuk jalan sendiri dengan mengabaikan niatan baik pihak lain. Menurut Pdt .Ujang, sikap seperti ini sering membuat konflik berlarut-larut.

“Kadang karena jumlahnya kecil, kita sering memilih untuk mengabaikan. Padahal mereka yang sering ngotot itu kan karena mereka peduli. Prinsip kita di GKI kan tidak ada yang namanya membuang anggota jemaat. Semuanya diharapkan untuk kembali berkontribusi bersama,” jelas Pdt. Ujang terkait prinsip yang diambilnya dalam mediasi.

Besar dan bertumbuh di GKI Maulana Yusuf, pendeta yang kerap menulis di sejumlah kumpulan rancangan khotbah ini mengaku tidak pernah menjadikan mediasi konflik dan rekonsiliasi dalam jemaat sebagai spesialiasi pelayanannya.

“Nggak tahu, ya. itu mengalir saja,” ujarnya tersenyum. “Dipanggil oleh jemaat yang mengalami sejumlah permasalahan. Ya, itu tanggung jawab yang saya pikul. Memang lebih capek secara fisik, tapi ada dalam pusaran pertentangan itu memberi banyak pelajaran.”

Untungnya ayah satu orang putra ini mengaku keluarganya amat mendukung setiap kiprah pelayanannya. Meski beberapa kali sempat khawatir, keluarga tetap rela sang ayah memeran diri sebagai pendeta yang mendampingi dan mengupayakan perdamaian di tengah pertentangan dalam tubuh jemaat.

“Tapi bukan berarti jemaat saya sampai sekarang selalu konflik dan bertentangan lho…,” bantahnya. Dalam bantahan ringan itu membayang sejumlah karya kecil yang ia kerjakan demi mengupayakan kembali jemaat yang utuh dan saling mengasihi. Panggilan dan karya yang mestinya selalu diemban oleh banyak orang yang rindu melayani Tuhan di kelembagaan gereja. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.