Pernahkah kamu membayangkan bagaimana orang lain akan mengenangmu jika sudah tiada nanti? Akankah ada yang berkabung dan menangis untukmu hingga 30 hari lamanya seperti Musa meninggal (Ulangan 34:7-8)? Seringkali cara orang lain mengenang seseorang yang sudah tiada mencerminkan kehidupan yang mereka jalani semasa hidup.

Lalu bagaimana dengan Yoram? Mengapa ia dikatakan mati tanpa cinta?

Yoram adalah anak sulung dari Raja Yosafat. Raja Yosafat semasa hidupnya takut akan Allah dan hidup menurut perintah-perintah-Nya. Oleh karena perbuatannya, maka Allah mengokohkan kerajaannya dan melimpahkan berkat untuknya (2 Tawarikh 17:3-5). Berbeda dengan sang ayah, Yoram yang dianugerahi mahkota Raja bertindak semena-mena.

Sesudah Yoram memegang kendali sebagai raja, ia merasa dirinya kuat dan hebat. Ia lalu membunuh semua saudaranya dan beberapa pembesar Israel dengan pedangnya. Tak hanya itu, Yoram mengikuti perilaku raja-raja Israel yang bebal dan menyakiti hati Allah. Bahkan ia membuat bukit pengorbanan di gunung dan membujuk penduduk Yerusalem untuk berzinah. Apa yang diperbuatnya tak satupun baik di mata Allah.

Pada zamannya, Edom dan Libna memberontak atas kekuasaannya dan mengangkat Raja untuk mereka sendiri. Tak hanya itu, orang-orang Filistin dan orang Arab maju untuk memberontak Yoram. Mereka menjarah seluruh harta Yoram termasuk anak dan isterinya. Mereka hanya menyisakan anak bungsunya Yoahas (2 Tawarikh 21:17).

Penderitaan Yoram tak berhenti, ia terkena penyakit usus yang sangat parah. Ia hanya mampu bertahan selama 2 tahun dengan penyakit yang dideritanya sebelum akhirnya meninggal. Tak satupun rakyatnya berduka dan memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Yoram meninggal tanpa dicintai rakyatnya. Perilakunya yang buruk semasa hidup membuatnya tak layak dicintai sampai akhir (2 Tawarikh 21:19). **yst

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.