Cerita kali ini akan membahas kisah Habakuk, seorang nabi penulis yang menghabiskan hidupnya dan melayani di Yehuda sekitar paruh kedua abad ke-7. Siapakah sebenarnya Habakuk, adakah cerita istimewa dari kisahnya?

Di kitab Habakuk sendiri, sebenarnya tidak ada latar belakang yang jelas tentang identitas Habakuk. Bahkan sepanjang kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak ada satupun yang menyebutkan biografinya. Habakuk memulai pelayanannya sebelum bangsa Babel menyerang Yehuda dan menulis kitabnya ketika masa pemerintahan Raja Yoyakim (2 Raja-raja 23:36).

Tak ada yang istimewa dari Habakuk, ia hanya seorang pelayan yang tetap bekerja untuk Allah sekalipun dalam waktu yang sulit. Ia tetap melayani di masa pemerintahan Yoyakim yang terkenal jahat di mata Allah dan bertahan ketika bangsa Babel menyerang. Tentu bukan perkara yang mudah untuk  menjalankan tugas di tengah berbagai kesesakan. Bangsanya mengalami krisis moral dan kejahatan merajalela. Penganiayaan, kelaliman, penindasan, penyalahgunaan hukum dan ketidakadilan menjadi pemandangan yang biasa.

Habakuk khawatir dan meminta Allah untuk menghukum orang berdosa dengan tujuan keadaan bangsanya akan dapat dipulihkan. Allah menjawab permintaan Habakuk dengan mengirimkan orang Kasdim untuk menindas bangsanya sebagai bentuk penghukuman.

Jawaban Allah makin menambah kegelisahan Habakuk. Ia tidak terima jika Allah menghukum bangsanya dengan cara ditindas orang Kasdim yang bahkan lebih berdosa dibanding mereka, Habakuk kian galau. Di waktu yang sama, di tengah pergumulan dan kegalauan itu, Habakuk tetap memasrahkan keputusan yang Allah pilih. Dengan imannya, Ia berusaha untuk tetap mengerti bahwa Allah akan memberikan hukuman yang setimpal dengan penindas (Habakuk 2:6-20).

Sejak awal kitab yang di tulis Habakuk menceritakan pergumulan-pergumulan yang sulit namun diakhiri dengan sajak yang indah. Kira-kira apa maksudnya? Ibarat cerita yang ditulisnya sendiri, bahwa Habakuk memulai dengan keluhan atas bangsanya yang berbuat dosa, dipertengahan ia galau dan seakan mempertanyakan solusi yang Allah berikan. Namun, ia akhirnya menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah.

Kisah Habakuk sebenarnya seringkali terjadi dalam kehidupan pribadi kita. Di tengah badai pergumulan, ratapan dan keluhan seringkali ditujukan kepada Allah. Pribadi kita menginginkan-Nya untuk menjawab pergumulan itu, ketika jawaban datang malah kegalauan datang menggantikan. Namun, seringkali kita lupa mengakhirinya seperti Habakuk dengan tetap menyerahkan segala keputusan kepada Allah dan memujinya.

Habakuk meninggalkan teladan yang baik bagi kita, sekalipun ia hidup di lingkaran orang-orang yang selalu berbuat dosa. Ia meratap tapi ia tidak pernah putus menyembah Allah. Lalu bagaimana dengan kita? **yst

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.