Tahukah kamu bahwa tradisi Kristen mula-mula mengelompokkan dosa ke dalam tujuh dosa pokok (seven capital sins) atau biasa juga disebut tujuh dosa paling mematikan (seven deadly sins)? Lalu mengapa dosa ini dikelompokkan ke dalam tujuh bagian? Apakah konsep ini dibuat berdasarkan Alkitab?

Konsep ini pertama kali muncul di abad ke-4 yang diperkenalkan oleh seorang biarawan Evagrius Ponticus. Karyanya ini mengelompokkan delapan pikiran jahat di Yunani. Hampir memasuki abad ke-6 karya biarawan ini kemudian direvisi oleh Paus Gregorius menjadi tujuh bagian, yang terdiri atas envy (iri hati), gluttony (rakus), greed (serakah), sloth (malas), wrath (murka), lust (hawa nafsu), dan pride (kebanggaan yang merujuk pada kesombongan).

Pengelompokkan ini dialaskan pada tradisi Kristen masa itu yang menganggap ketujuh dosa itu mampu melahirkan dosa-dosa lain sehingga dianggap paling pokok dan harus dihindari:

  1. Envy (iri hati)
    Iri hati selalu bersifat kompetitif, membandingkan diri sendiri dengan orang lain dengan pandangan yang negatif. Sifat seperti ini selalu menjadikan tiap orang fokus pada apa yang tidak dimiliki dan membutakan rasa syukur kita atas anugerah Tuhan. Iri hari hanya akan menciptakan penderitaan dan kepedihan.

    Alkitab mencatat banyak kisah dimana iri hati menjadi motif yang kuat seseorang berbuat kejahatan. Diantaranya, Kain membunuh Habil adiknya (1Yoh. 3:12), karena iri hati orang-orang Filistin menutup sumur milik Ishak (Kej. 26:12-15), dan karena iri saudara-saudara Yusuf menjual Yusuf sebagai budak ke Mesir (Kej. 37:22).

    Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yak. 3:16).

  2. Gluttony (rakus)
    “Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” (Fil. 3:19).
  3. Greed (serakah)
    Keserakahan adalah ketika kebutuhan bercampur-baur dengan keinginan. Kita menjadi serakah ketika apa yang kita inginkan disamarkan menjadi apa yang kita butuhkan. Padahal kita sebenarnya tak membutuhkannya. Bentuk keserakahan yang paling sering kita temui adalah cinta uang (1 Timotius 6:10).
  4. Sloth (malas)
    Kemalasan seringkali membawa kita pada hidup tanpa arah dan kehilangan hasrat untuk mencapai banyak tujuan. Pikiran-pikiran akan permasalahan ke depan membawa kita pada kemalasan dan berujung tidak berbuat apa-apa. Si pemalas berkata, “Ada singa di luar, aku akan dibunuh di tengah jalan.” (Amsal 22:13).
  5. Wrath (murka, amarah)
    “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” (Ef. 4:26).Api amarah yang besar dan dipendam seringkali berujung pada dosa yang lebih besar dan melahirkan kejahatan-kejahatan yang sulit ditangani.
  6. Lust (hawa nafsu)
    Lust banyak berujung pada kejahatan yang merusak lingkungan. Hawa nafsu seringkali sulit dikendalikan karena kondisi mental dan spritual yang tidak sehat. Dosa ini nyatanya melahirkan banyak dosa-dosa lain. Tetapi Aku berkata kepadamu: “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Mt. 5.28).
  7. Pride (kesombongan)
    Kesombongan mengintai kita dari segala sudut, seringkali tanpa disadari sifat sombong ini muncul di tengah-tengah pergaulan kita sehari-hari. Dan apabila menjadi biasa, sifat seperti ini akan berakar pada kepentingan diri sendiri dan tidak perduli dengan orang lain. Dan sungguh, sifat itu tidak akan berkenan di mata Tuhan. “Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.” (Amsal 11:2).

Ketujuh dosa utama ini memang tidak mudah diatasi dan selalu mengintai kita setiap saat. Bentuk dosa seperti apa pun tentu tidak berkenan di mata Tuhan. Dan cara yang paling jitu untuk terhindar dari segala bentuk dosa adalah dengan memelihara hubungan yang baik dengan Tuhan.

Jika hubungan kita dengan Tuhan semakin dekat maka akan senantiasa ada yang mengingatkan kita untuk terhindar dari dosa. Perjalanan hidup ini akan kita habiskan dengan memuliakan namaNya setiap hari melalui perkataan dan perbuatan kita. Selamat memulai hubungan yang intim dengan Tuhan. 🙂 **yst

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.