Agak bingung memberi sebutan untuk program ini… Mungkin akan pas bila disebut kegiatan katekisasi, tapi bisa juga juga disebut nyantri.

Yang jelas ini bukan sekedar kunjungan,” ralat Abdurahman Wahid, ketua PELITA (komunitas lintas iman di Cirebon) saat ditanya terkait acara tiga hari sepanjang Jumat-Minggu (31/3-2/4) itu. Pria yang akrab disapa Omen itu menjelaskan bahwa kegiatan ini difasilitasi PELITA dan melibatkan GKI Pamitran Cirebon, GKI Jatibarang Indramayu serta Balai Pendidikan Pondok Putri (Bapenpori) Pesantren Babakan Ciwaringin. Tujuannya agar anak-anak muda di GKI dan santri-santri di pesantren bisa saling belajar satu sama lain.

Anak-anak muda katekisan dari dua jemaat GKI di Klasis Cirebon ini telah menyelesaikan materi katekisasinya. Lantas, sebagai tahap akhir dari katekisasi mereka diajak untuk belajar dari sekitar. Termasuk terkait keislaman dalam tradisi pesantren, yang terbilang jarang mereka saksikan sendiri.

Selama tinggal dan belajar, warga muda GKI ini melihat sendiri hal-hal yang dipelajari oleh para santri. Mulai dari hal keseharian yang paling sederhana, hingga materi-materi keislaman yang mereka pelajari dalam didikan pesantren, semisal kajian fikih (hukum Islam).

Kami memiliki alasan tersendiri… dari awal sudah diniati, menyambut adik-adik belajar di sini. Karena ingin menunjukkan bahwa pelajaran pertama-tama seorang santri adalah akhlak. Akhlak yang baik adalah menerima setiap perbedaan sebagai suatu anugerah dari Allah…,” demikian K.H. Amin Fuad, pengasuh Bapenpori, menegaskan niatannya menyambut jemaat muda GKI itu.

Kyai Amin kemudian menjelaskan latar mengenai kehidupan pesantren, secara khusus sejarah panjang Pondok Pesantren Babakan, sejak dirintis tahun 1705 oleh K.H. Hasanuddin (Kyai Jatira) hingga berkembang menjadi puluhan pondok pesantren seperti sekarang.

Sementara itu Pdt. Kukuh Aji Irianda, yang mendampingi peserta GKI, menjelaskan bahwa inisiatif dan dukungan GKI bagi pembelajaran keberagaman seperti ini memang beranjak dari hal yang merupakan kebutuhan bersama. Anak-anak muda Kristiani memang perlu belajar dari rekannya yang berbeda, meredam prasangka, juga belajar agama lain dari sumber yang terpercaya.

Langkah kecil ini amat diapresiasi oleh pegiat lintas iman baik di Cirebon maupun dari kota-kota lain. Umumnya berpendapat kesempatan seperti ini perlu terus digalakkan. Sebagian besar pegiat yang Muslim juga menilai, cara seperti ini adalah momen yang pas untuk menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya damai. Sementara bagi umat Kristiani, memasukkan hal seperti ini sebagai bagian dari pendidikan jemaat adalah upaya untuk menjejakkan keimanan kristiani sebagai hal yang membumi. Tidak terasing dari sekitar dan kesehariannya. **arms

Sumber berita dan foto: Tim PELITA Cirebon

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.