Hujan masih merintik di Jumat Sore (28/4) saat Keluarga Besar Civitas Akademika Universitas Kristen Maranatha merayakan Paskah bersama umat Kristiani se-Bandung. Acara yang digelar di Auditorium Prof. Dr. P.A. Surjadi, Universitas Kristen Maranatha ini juga bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun PGPK yang ke-67.

Lagu-lagu Kristiani kontemporer berpadu bersama himne Kristiani klasik bergantian dinyanyikan dan ditampilkan oleh jemaat dan perwakilan sejumlah lembaga. Lewat tema Kebangkitan Kristus Membebaskan Kita dari Kuasa Kematian (Roma 6:10) dan sub-tema Ia harus makin besar tetap aku makin kecil (Yohanes 3:30), perayaan paskah ini mencoba mengingatkan kembali makna kebangkitan Kristus bagi umat Kristiani.

Dalam khotbahnya, pendeta kampus Universitas Kristen Maranatha, Pdt. Drs. Agustria Empi, M. Min, mengingatkan umat Kristiani akan situasi dunia, tempat yang ditinggalinya.

Ayat ini sungguh relevan bagi kita di masa kini,” ujarnya saat menjelaskan nats Roma 6: 1-14 yang dijadikan tema.

Dunia saat ini semakin dicengkram oleh hedonisme, dimana orang-orang hanya mencari kesenangan diri sendiri. Dicengkram oleh pandangan yang hanya mementingkan materi, sehingga segala sesuatunya harus diukur dengan itu. Dicengkram oleh kebebasan semu, sehingga menabrak semua norma. Dicengkram oleh relativisme, saat tidak ada lagi keyakinan akan kebenaran mutlak. Juga dicengkram egoisme dan sektarianisme, sehingga menjadi ekstrim dalam mengutamakan kepentingan kelompoknya,” jelas Pdt. Agustria.

Menurutnya, semua hal tadi adalah manifestasi kematian, manifestasi dari cengkraman dosa. Manusia membutuhkan kasih karunia Allah untuk lepas dari cengkraman dosa dan manifestasinya ini. Itulah kabar baik yang disampaikan lewat Paskah.

Ada kasih karunia, yang akhirnya Tuhan nyatakan lewat kematian dan kebangkitan Kristus. Sehingga kita dimampukan untuk menghadapi itu semua. Kasih karunia itu jangan dipandang sebagai kesempatan untuk berbuat dosa. Umat Kristen memandangnya sebagai kemurahan yang patut disyukuri di keseharian, juga sebagai hal yang memampukan rekonsiliasi dengan Allah, alam dan sesama,” tambah pendeta yang ditahbiskan di Sinode Gereja Kristen Pasundan (GKP) ini.

Secara khusus untuk umat Kristen di Indonesia dan civitas Universitas Kristen Maranatha, Pdt. Agustria juga menekankan bahwa Paskah adalah juga panggilan untuk menghayati keindonesiaan, tempat kita berpijak. Di tengah manifestasi dosa yang juga terlihat wujudnya di Indonesia, umat Kristiani, para warga intelektualnya, dipanggil untuk menampilkan wujud berita Paskah itu.

Bagi Universitas Kristen Maranatha, panggilan itu tentu tak akan diabaikan. Kampus kristiani hasil dukungan GKI dan GKP yang hampir menginjak usia 52 tahun ini, menghayati bahwa nilai-nilai yang diembannya dalam menyelenggarakan pendidikan adalah wujud dari panggilan untuk menampilkan berita Paskah itu dalam konteks keindonesiaan. *arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.