Menempuh perjalanan lebih dari tujuh kilometer di tengah kemacetan Kota Bandung memang menjadi tantangan tersendiri. Namun di Sabtu sore (3/6) delapan orang anggota Komisi Pemuda GKI Kebonjati Bandung melakoninya dengan senang sembari agak deg-degan.

Saya sih bertetangga dan banyak teman yang Muslim, tapi belum pernah bikin acara di tengah pesantren atau taman belajar Islam, seperti sekarang,” komentar Aldius, salah seorang pemuda yang ditunjuk untuk membawakan acara. Hari itu komisi pemuda GKI Kebonjati mengunjungi Taman Belajar Al-Afifiyah di wilayah Cirangrang, Kopo, Bandung.

Program ini sebenarnya adalah bagian dari rangkaian Smiling Project Pemuda GKI Kebonjati. Upaya pemuda-pemudi gereja ini membagikan kecerian lewat hal-hal sederhana dan keseharian. Mengajak orang-orang untuk menghadirkan dan mengupayakan kebahagiaan bagi sesama. Meski sempat beberapa kali mempertimbangkan ulang untuk kunjungan ke Al-Afifiyah, mengingat belum banyaknya pengalaman pemuda berinteraksi dengan lintas iman, program ini akhirnya tetap disetujui bersama untuk diselenggarakan.

Ternyata sambutan siswa-siswi pesantren asuhan Ust. Wahyul Afif Al-Ghafiqi itu jauh melampaui yang mereka bayangkan. Meski hanya sebentar, dimulai jam lima sore hingga menjelang waktu buka puasa, sekitar seratusan siswa begitu terlibat, bergembira dalam permainan gerak dan lagu.

Kalian senang dikunjungi kawan-kawan yang berbeda?” pertanyaan Ust. Wahyul yang akrab dipanggil Mako itu langsung dijawab serempak oleh siswa, “Senang!

Beberapa kali dalam sambutan, Ust. Mako menekankan pentingnya membangun hubungan dengan saudara-saudari yang berbeda latar belakang. Agar saling mengenal dan saling membangun sebagai saudara sebangsa. Ia juga menekankan bahwa taman belajar yang dirintisnya sejak 2007 itu sering sekali menyambut dan bekerjasama dengan orang dari berbagai latar belakang.

Itu sekalian saya ajak saudara-saudari dari PMKRI,” ujar Ust. Mako sembari menunjuk sekitar tujuh orang mahasiswa-mahasiswi anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Bandung, yang turut hadir dalam acara ini. “Biar kalian bisa saling kenal dan kerjasama. Disini mereka sudah anggap rumah sendiri. Hebat kan di taman belajar Islam, yang Protestan dan Katolik justru ketemu?” Canda Ust. Mako meneruskan.

Semangat kebersamaan sore itu memang begitu menggugah. Di ruang semi terbuka yang sederhana itu, pemuda-pemudi dan para siswa duduk lesehan, bermain bersama, hingga ngobrol santai menghabiskan makanan berbuka puasa. Momen yang harus dipisahkan oleh terbatasnya waktu itu pun dirasakan begitu membekas oleh para pemuda GKI.

Pecah euy! Nggak nyangka responnya bakal semeriah ini,” komentar pemuda-pemudi ini kompak saat ditanya terkait penyelenggaraan acara. Dalam kebahagiaan mereka terpancar harapan untuk kerjasama lintas agama dan lintas latar belakang yang lebih mumpuni ke depannya. Demi semakin banyak senyum bahagia terbentuk di wajah kaum muda Indonesia. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.