Angka 7 kerap dipakai dalam mendaftar orang, benda atau peristiwa di beberapa budaya dan tradisi agama. Ada tujuh hari dalam seminggu. Ada tujuh orang bijak di Yunani Kuno. Tujuh maharesi dalam pustaka Hindu. Tujuh Hari Raya dalam Agama Yahudi. Tujuh raja awal kota Roma.

Selain itu, ada pula cerita tujuh keajaiban dunia, tujuh planet yang ada dalam astronomi tradisional, tujuh logam utama, hingga yang terbilang dicocok-cocokkan yaitu tujuh benua dan tujuh samudera. Pokoknya ada banyak daftar yang dimulai dengan tujuh.

Kekristenan pun tidak lepas dari kecenderungan yang demikian. Dalam tradisi kuno, kita pernah mendengar istilah tujuh dosa utama, tujuh perbuatan baik, tujuh sakramen (tradisi Katolik dan Ortodoks), serta banyak daftar serupa yang mencoba mengintisarikan ajaran kristiani sehingga lebih mudah diingat umat awam.

Alkitab pun sering memakai angka tujuh. Namun, tidak hanya terkait untuk mendaftar dalam langgam yang lebih mudah diingat, angka tujuh sering diasosiasikan sebagai lambang kesempurnaan dan karya yang selesai.

Narasi penciptaan dihitung dengan hari yang berjumlah tujuh. Dalam tradisi Yudaisme, penciptaan dimitoskan terjadi pada hari pertama bulan Tishri (bulan ketujuh dalam kalender Yahudi). Hari ketujuh, demikian pula tahun ketujuh di-Sabbat-kan, sebagai momen untuk beristirahat. Puncaknya di tahun ke tujuh kali tujuh (Yobel), yang merupakan momen pembebasan.

Yesus pun, terutama di Injil Matius dan Yohanes, sering digambarkan menggunakan pengajaran yang memakai konsep tujuh itu. Seperti ada tujuh perumpamaan di Matius 13, tujuh kali penyembuhan pada Hari Sabbat, tujuh kata-kata penghakiman di Matius 23. Demikian pula tujuh mujizat yang disebut dalam Injil Yohanes, serta tujuh kali dituliskan Yesus berkata, ego eimi (aku, akulah, kata yang identik dengan nama Tuhan dalam tradisi Ibrani).

Bible Study Site mencatat angka tujuh digunakan setidaknya lebih dari 490 kali dalam Alkitab. Dalam kitab Wahyu saja setidaknya angka ini digunakan 50 kali, semisal surat untuk ketujuh jemaat di Asia Kecil.

Namun tak selalu angka tujuh punya konotasi sempurna dan indah. Lamekh, cucu Kain, menggunakan angka tujuh dalam konotasi pembalasan dendam (Kejadian 4:24). Demikian pula penglihatan tentang tujuh sangkakala dan tujuh cawan yang digambarkan di Kitab Wahyu adalah hal yang berkonotasi kehancuran. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.