Nuh adalah seorang ayah yang luar biasa, di tengah kehidupan manusia semakin yang rusak kala itu, Nuh dipanggil Tuhan untuk memperbaharui bumi. Ia taat, meskipun panggilan Tuhan itu terdengar ‘gila’ untuk manusia saat itu. Ketaatan menuntun Nuh, istri, anak-anak, para menantu, dan makhluk hidup lainnya selamat dari penghukuman Tuhan.

Nuh dan keluarganya pun memulai kehidupan yang baru. Dan ada yang menarik dicatat dalam Alkitab, Nuh akhirnya memutuskan untuk membuka kebun anggur pertama di bumi. Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur (Kejadian 9:20). Tuhan memberkati kebun anggur tersebut dengan hasil yang melimpah.

Sungguh disayangkan berkat Tuhan ini disalahgunakan oleh Nuh. Ayah dari Ham, Sem dan Yafet ini memberikan contoh yang kurang baik dengan mabuk anggur di dalam tendanya. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan meminum anggur, tetapi menggunakannya secara berlebihan hingga kehilangan kesadaran itulah yang tidak baik.

Tanpa disadari mabuk anggur membuatnya melepaskan pakaiannya dan lupa menutup tendanya. Entah di sengaja atau tidak, Ham melihat keteledoran itu dan mengabarkan dengan nada sindiran kepada kedua saudaranya. Sem dan Yafet memberikan tanggapan yang baik. Mereka berusaha menutupi orang tua mereka dengan kain meskipun pada masa tidak baik jika anak masuk ke tenda orang tuanya ataupun sebaliknya.

Setelah terbangun dan mungkin mendengar pergunjingan keluarganya, Nuh menjadi marah dan mengutuk Ham. Keturunan Sem dan Yafet pun ia berkati untuk menjadi tuan atas keturunan saudara mereka.

Tanpa disadari, ayah-ayah saat ini pun sering dibuai oleh “kebun anggur” masa kini sehingga lupa akan tugas dan tanggung jawabnya. Keluarganya pun ada yang terabaikan atau mungkin tanpa sengaja ada yang ikut terlena. Sebagai seorang ayah, Nuh pernah gagal untuk mendidik mereka dalam cinta kasih dan langsung memberikan penghakiman, bahkan kutukan.

Jangan sampai anak-anak kita yang lebih bijak dibandingkan kita, mereka bahkan tanpa disadari lebih menjaga martabat dan kehormatan ayahnya, seperti Sem dan Yafet.

Tahukah kita bahwa sebagai ayah, kita hendaknya memberikan contoh untuk tidak menggunakan sesuatu yang berlebihan. Bagaimana mungkin kita mendidik anak dari smarthphone yang kini ‘memabukkan’, jika kita ‘asik’ sendiri menonton berita, bola atau bahkan mencari nafkah?

Sebagai ayah kita harusnya mendidik anak-anak dalam cinta kasih dan bukan dengan penghakiman atau bahkan kutuk seperti yang diterima Ham dan keturunannya. **sn

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.