Ada sebuah kisah tentang seorang anak yang nakalnya luar biasa, baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Ia tak takut pada siapapun, ia tak memandang siapa yang ada di hadapannya. Kalau sedang marah, siapapun akan dihajarnya. Orang bilang, kalau lagi marah ga bisa lihat kuping.

Suatu hari anak itu kena batunya. Orang yang tidak mau menerima sikap dan kata-katanya yang kasar adalah kakaknya sendiri. Sang kakak membalasnya dengan sikap dan kata-kata yang lebih kasar lagi. Akibatnya mereka berkelahi. Tak ada yang mau mengalah, saling pukul. Tak ada yang dapat melerai mereka, sampai akhirnya mereka lelah sendiri.

Lalu ibu mereka mendekati dan meminta supaya kedua anaknya itu bersalaman. Sang kakak mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman, tetapi adiknya tak mau menerima, bahkan hampir menampar kakaknya. Untungnya tangan ibunya cepat menangkap.

Kamu harus minta maaf sama kakakmu!” Perintah ibunya.

Tidak, dia yang harus minta maaf sama aku!

Sang ibu kemudian berkata: “Nak, ketahuilah bahwa selama ini kami semua mengampunimu. Kami selalu memaafkan segala perbuatan nakalmu. Coba satu kali ini saja, kamu minta maaf pada kakakmu.

Mata adik yang nakal itu kemudian mulai menggenang, ia merangkul kakaknya dan memangis dalam pelukannya. Peristiwa itu telah merubah si anak nakal itu, karena ia baru sadar bahwa selama ini ia selalu dimaafkan oleh saudara-saudaranya…

Menurut saudara, mana yang lebih mudah dan indah antara memberi atau menerima, khususnya soal maaf?

Rasanya sukar meminta maaf. Malu, harga diri turun, atau sejumlah keengganan lain. Kalau memberi maaf? Wah, tidak bisa begitu saja donk. Banyak alasan, banyak argumen yang membuat seseorang sulit minta maaf dan juga memberi maaf. Apalagi jika kedudukan, harga diri dan prestise didahulukan. Padahal, tiap hari kita minta ampun, minta maaf pada Tuhan, minta kemurahan hati Tuhan, supaya kita tetap di kasihi Nya. Tetapi kepada orang lain, berlaku berbagai syarat.

Belajar mengampuni sebaiknya dimulai dari dalam keluarga. Sebuah keluarga seharus nya belajar untuk berani mengaku salah, rendah hati untuk memberi maaf. Keluarga seharusnya menjadi sekolah, dimana saling mengampuni itu adalah kunci kedamaian dalam keluarga.

Tuhan mengajak kita menjadi peserta dalam anugerah pengampunan Nya, tetapi banyak orang ingin menjadi hakim bagi sesamanya. Karena itu sebenarnya banyak orang yang tak tahu malu dan tak tahu diri.

Mari kita belajar membangun sikap saling mengampuni dalam hidup kita. Sebab kita di dalam Anugerah Allah, senantiasa diampuni Nya. Dengan saling mengampuni, hidup kita menjadi suatu pintu menuju kebahagiaan. Jika kita mengampuni sesama, kita akan mengalami betapa hidup ini begitu indah. Inginkah anda mengalami hidup yang indah? Saling mengampunilah. Mulai dari keluarga.

Ditulis dalam rangka bulan keluarga oleh Pdt. Em. Setiawan Oetama (GKI Samanhudi)

Foto: The Odyssey Online

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.