O Come, O Come Emmanuel atau O Datanglah Imanuel (Kidung Jemaat No 81) adalah salah satu lagu yang paling sering dinyanyikan di Masa Adven. Lagu yang berasal dari kidung tradisional Latin Veni, Veni Emmanuel ini sudah dikenal luas di Gereja Barat sejak abad ke-15, bahkan sering dikaitkan dengan himne yang lebih kuno dari sekitar abad ke-12 Masehi.

Syair lagu ini sendiri memang identik dengan apa yang disebut sebagai Antifon-O (O-Antiphon), yaitu kidung pendek yang merupakan bacaan liturgis saat sembahyang senja (Vesper) selama tanggal 17-23 Desember. Asalinya selama tujuh hari menjelang Natal itu, dalam Antifon-O ini umat menyapa Yesus, Sang Mesias, dengan tujuh gelar yang berbeda: Sang Hikmat (Sapientia), Tuhan (Adonai), Tunas Isai (Radix Jesse), Kunci Daud (Clavis David), Surya Pagi (Oriens), Raja Segala Bangsa (Rex Genitum) dan Imanuel (Emmanuel).

Antifon-O yang dibacakan di puncak Masa Adven ini tidak hanya dikenal di Gereja Katolik. Gereja-gereja Protestan tradisional tetap mempertahankannya dalam sejumlah bacaan liturgis. Menjadikan kidung ini pun amat populer dinyanyikan selama Masa Adven.

Nukilan gelar yang berasal dari sejumlah teks Perjanjian Lama itu diyakini tidak hanya penggenapan yang terjadi pada kelahiran Yesus, namun juga sebagai wujud penantian umat akan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman. Ada kemungkinan para biarawan Benediktin yang dipercaya menyusun komposisi awal Antifon-O ini, sengaja menaruh urutan yang demikian, hingga jika kita membaca urutan gelar itu dibaca terbalik dari Imanuel hingga Sang Hikmat akan membentuk kata Latin ERO CRAS, yang berarti: “Esok, Aku akan datang.

Akan tetapi dalam perkembangan belakangan di wilayah Jerman, lagu yang awalnya terdiri dari tujuh stanza untuk masing-masing gelar, menyingkat menjadi hanya lima stanza. Gelar Sang Hikmat (Sapienta) dan Sang Raja Segala Bangsa (Rex Genitum) sudah tidak ditemui dalam syair-syair terjemahan yang lebih modern. Dalam terjemahan Inggris, juga dalam terjemahan Indonesia-nya kita pun hanya mengenal lagu ini dengan lima stanza saja. Sebagaimana kita lihat dalam terjemahan Yamuger yang dimuat dalam Kidung Jemaat:

I. O, datanglah Imanuel, tebus umatMu Israel,
yang dalam berkeluh kesah menantikan Penolongnya.
Bersoraklah hai Israel, menyambut Sang Imanuel!

II. O, datang Tunas Isai, patahkan belenggu pedih
dan umatMu lepaskanlah dari lembah sengsaranya.
Bersoraklah hai Israel, menyambut Sang Imanuel!

III.O, Surya Pagi, datanglah dan jiwa kami hiburlah;
halaukanlah gelap seram bayangan maut yang kejam.
Bersoraklah hai Israel, menyambut Sang Imanuel!

IV. O Kunci Daud, datanglah, gapura sorga bukalah;
tutuplah jalan seteru, supaya s’lamat umatMu.
Bersoraklah, hai Israel, menyambut Sang Imanuel.

V. O Tuhan Allah, datanglah, Firman-Mu berkuasalah,
seperti waktu Kauberi di atas puncak Sinai.
Bersoraklah, hai Israel, menyambut Sang Imanuel.

**arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.