Aduh, Oma untung ada gereja. Kalau tidak kami bakal kena semua…” ucapan itu beberapa kali muncul dari warga sekitar Pasar Gembrong Lama, Kecamata Johar Baru, Jakarta. Kalimat itu ditujukan untuk Pdt. Em. S.M Mertawati Gulo, pendeta yang telah puluhan tahun tinggal di wilayah yang baru saja mengalami musibah kebakaran pada Jumat dini hari (8/12) lalu. Kebakaran itu memang menghanguskan ruang utama gereja. Hal yang sama terjadi pada dua puluhan kios di kawasan pasar tradisional ini.

Ada refleksi yang begitu unik dari ucapan itu. Di satu sisi itu adalah bentuk keprihatinan warga atas musibah yang menimpa gereja. Di sisi lain hal itu juga menjadi peragaan tak disengaja atas kasih Kristiani yang rela berkorban bagi sesama. Jemaat GKI Gembrong secara perlahan menghayati ucapan Kristus akan bagaimana biji gandum yang jatuh, mati dan dikubur, namun menumbuhkan harapan akan buah yang lebat kelak.

Refleksi itu pula yang hadir dalam ibadah Adven Minggu Kedua di jemaat ini. Sekitar duapuluhan lebih jemaat yang hadir tetap bersemangat merayakan minggu persiapan Natal, meski dengan suasana yang amat bersahaja. Ibadah diadakan di samping ruang utama yang sudah tak beratap. Tak ada pengeras suara, tak ada lagi organ gereja, tanpa lampu, pun tidak dengan sejuknya pendingin ruangan. Hanya ada mimbar kecil dan pohon Natal yang terselamatkan dari api.

Ini bukan kali pertama. Kami pernah mengalami hal serupa sekitar tahun 1999, waktu itu gereja pernah dirusak. Tapi kami tetap menyelenggarakan kebaktian. Uniknya kebaktian kami di atas puing kala itu juga dipimpin oleh Kak Susi ini,” kenang Pdt. Em. Mertawati Gulo sembari menyebut rekannya Pdt. Em. Susi Palo, yang memimpin ibadah Minggu Adven kedua ini.

Persiapan untuk ibadah kali ini memang lumayan seadanya. Dalam dua hari selepas musibah, jemaat dibantu masyarakat dan petugas kebersihan membereskan puing-puing. Listrik dan air memang belum bisa menyala dengan baik. Namun itu semua tidak menghalangi niat untuk beribadah. Justru menjadi semacam perenungan Adven tersendiri, bagaimana umat diajak untuk menghayati makna Adven yang intinya adalah masa persiapan. Khotbah dari pasal pertama Injil Markus itu pun jadi punya warna rasa yang khas.

Selepas ibadah Pdt. Em. Mertawati Gulo mengajak jemaat untuk mengambil waktu doa secara khusus atas kejadian ini. “Kita tidak perlu banyak menduga-duga dan terus membicarakan hal yang tidak baik, justru yang paling penting kita gumulkan adalah apa yang Tuhan kehendaki lewat peristiwa ini. Lalu kita perlu berkomitmen apa yang bisa kita kerjakan bagi gereja kita,” pesannya yang kemudian diikuti momen doa berdua-bertiga yang begitu sederhana dari jemaat yang telah berdiri sejak tahun 1982 ini.

Usai berdoa, kumpulan kecil ini pun mendiskusikan rencana ibadah mereka selanjutnya, juga persiapan khusus untuk ibadah malam Natal. Bagi jemaat yang ada dalam lingkup klasis Jakarta 1 Sinode Wilayah Jawa Tengah ini, kerinduan untuk menghayati kelahiran Kristus kini muncul dalam nuansa tersendiri. Mungkin jauh berbeda dari yang kebanyakan gereja lain alami… **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.