Hari kedua, Jumat (23/3), workshop kebangsaan untuk para pendeta GKI di lingkup Sinode Wilayah Jawa Barat diisi dengan ekskursi. Para peserta workshop ini mengunjungi sejumlah tempat sembari menajamkan wawasan dan wacana mereka untuk menarasikan pesan kebangsaan.

Ini kebutuhan yang kami rasakan perlu juga,” ujar Pdt. Cordelia Gunawan menjelaskan latar kegiatan ekskursi ini. “Bukan sekedar mengundang pihak lain datang ke tempat kita, kita pun mesti juga berkunjung untuk memperkaya.

Di pagi hari, para pendeta ini mengikuti diskusi terbatas bertema tantangan intoleransi di Indonesia di kantor Wahana Visi Indonesia (WVI). Dalam diskusi terbatas yang juga dihadiri board member WVI itu, Jacob Tobing, Matius Ho dan Septemy Lakawa menyampaikan sejumlah pandangan terkait tantangan intoleransi dan peran gereja serta pentingnya generasi muda membangun toleransi.

Di hari yang sama peserta workshop juga mengunjungi Pusat Sejarah Konstitusi di gedung Mahkamah Konstitusi Indonesia. Ruang yang merekam sejarah konstitusi bangsa Indonesia itu terletak di Lantai 5 dan 6 gedung Mahkamah Konstitusi. Tatanan grafis dan hologram yang apik itu membuat para peserta terpesona.

Sangat indah, kita bisa belajar jauh lebih banyak soal pembentukan dan identitas bangsa Indonesia dengan sajian yang menarik,” komentar Pdt. Esther Setianingrum dari GKI Maulana Yusuf. Ia mengaku cukup kagum bagaimana pusat sejarah ini merekam keberagaman Indonesia sehingga membentuk diri menjadi bangsa yang majemuk dan toleran. Serta bagaimana konstitusi Indonesia akhirnya berkembang dengan sebisa mungkin mengakomodasi jaminan hak asasi manusia bagi seluruh warganya.

Tak sampai disitu saja, para peserta kemudian berkunjung ke Wahid Foundation. Di yayasan yang dibangun oleh presiden keempat RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu, para peserta workshop belajar tentang kiprah dan pemikiran beliau untuk keindonesiaan dan kemanusiaan. Yayasan yang kini dipimpin oleh Yenni Wahid, putri kedua Gus Dur mempunyai prioritas untuk semakin mendorong tokoh muda, tokoh perempuan, para pembuat kebijakan dan para ulama untuk mewujudkan visi Gus Dur akan masyarakat multikultur yang berkemajuan.

Kawan-kawan di Wahid mengingatkan kami bahwa upaya untuk terus merawat keindonesiaan bukanlah hal yang mustahil. Ada banyak harapan dan kesempatan yang bisa dikaryakan,” tutup Pdt. Esther merefleksikan serangkaian kunjungan ini. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.