Mau didoakan apa?

Kira-kira kapan terakhir kali kita menanyakan pertanyaan seperti itu pada anak kita yang berusia kanak-kanak atau remaja? Pertanyaan seperti itu, jika diajukan dengan perhatian bukanlah basa-basi religius keluarga. Secara psikologis, itu adalah tawaran terbuka. Bukan tak mungkin anak dan remaja meresponnya secara positif karena tahu bahwa ia dihargai dalam keluarga. Hal yang menumbuhkan harga diri dan kepercayaan diri mereka. Selain juga ikatan batiniah antar anggota keluarga.

Contoh kecil itu adalah satu bahasan terkait mendidik spiritualitas anak dan remaja yang diangkat oleh suami-istri psikolog Davy dan Hanna Adisurja dalam acara tea time bertajuk Christ Centered Family di GKI Gunung Sahari. Acara yang digelar oleh Kelompok Kerja Parenting GKI Gunung Sahari pada Minggu (25/2) ini memang dikhususkan untuk orang tua yang anak-anaknya tengah memasuki usia kanak-kanak hingga remaja.

Kelompok Kerja Parenting di gereja ini melihat kebutuhan yang esensial dari apa yang diistilahkan sebagai mezbah doa keluarga, yaitu disiplin untuk membangun kebiasaan doa bersama di keluarga.

Memang di tengah kesibukan seperti sekarang kebersamaan keluarga dalam doa itu terbilang sulit dilakukan,” ungkap Pdt. Febe Oriana Herianto yang juga menjadi salah satu pembicara di kegiatan yang diikuti sekitar 50 orang peserta itu. Pdt. Febe meyakini saat kebersamaan doa ini dijadikan prioritas utama di keluarga, sebenarnya masih sangat memungkinkan untuk dilakukan.

Pertama kali memang tergantung pada komitmen orang tuanya. Perlu juga diperhatikan pendekatannya memang perlu lebih memperhatikan kebutuhan anak. Misal dengan lagu rohani yang mereka sukai atau contoh-contoh cerita Alkitab sederhana,” Pdt. Febe menjelaskan. “Yang jauh lebih penting juga adalah sikap mindfullness, kehadiran dan kesungguhan kita dalam doa bagi tiap anggota keluarga kita, meski tak selalu memungkinan untuk terus-menerus bertemu bertemu.

Para peserta sangat merespon positif kegiatan diskusi santai tea time ini. Cukup banyak pertanyaan yang diajukan pada Pdt. Febe maupun psikolog Davy dan Hanna Adisurja. Tak sedikit pula yang membagikan pengalaman mereka masing-masing saat membangun mezbah doa keluarganya.

Antusiasme ini tentu cukup menggembirakan penyelenggara acara. “Kita ingin membantu dan mendampingi orangtua agar bisa menghantar anak-anak mereka untuk hidup denga nilai-nilai iman dan moral sesuai dengan usianya, di tengah dunia di zaman ini,” ungkap Betty salah seorang panitia. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.