Salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus,

Saudara-saudara keluarga besar GKI, waktu menghantar kita sampai pada Paskah tahun ini. Peristiwa kebangkitan adalah peristiwa sentral dalam pemahaman iman Kristen.

Paulus menegaskan: “Jika tidak ada kebangkitan orang mati maka Kristus juga tidak di bangkitkan dan andaikata Kristus tidak di bangkitkan maka sia-sialah pemberitan kami dan sia-sialah kepercayaan kamu”. Paulus kemudian meneruskan dengan mengatakan: “Tetapi yang benar ialah bahwa Kristus telah di bangkitkan dari antara orang mati , sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal”. (1 Korintus 15:12-13, 20a).

Hal itu menjadi pewahyuan bahwa Yesus telah mengalahkan kematian – yang sekaligus juga menjadi kemenangan bagi setiap pemercayaNya atas maut dan penghukuman. Berita itulah yang menjadi inti pemeberitaan gereja – dan itulah berita Paskah yang harus kita teruskan kepada dunia. “Roh Tuhan ada padaku, oleh sebab Ia telah mengutus Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan ia telah menggutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”. (Lukas 4:18-19).

Pemberitaan gereja akan menjadi pemberitaan yang relevan dan kontekstual hanya ketika gereja memperhatikan konteks di mana gereja itu dihadirkan. Konteks Indonesia dimana GKI di hadirkan  diwarnai dengan tiga identitas: identitas kebangsaan atau nasionalisme; identitas keagamaan dan identitas kemanusiaan (identitas yang terakhir mungkin lebih tepat jika di sebut sebagai komitmen kemanusiaan). Identitas terakhir itulah yang sesungguhnya menjadi identitas yang mempertemukan kemungkinan benturan antara dua identitas sebelumnya – yang sekarang ini menjadi sesuatu yang patut diberi perhatian dengan sungguh.

Tahun politik terkait dengan Pilkada dan Pilpres membuat situasi kita menjadi hangat dan cenderung memanas. Hampir setiap hari kita mendapatkan begitu banyak berita lewat banyak kiriman di media sosial yang kita akses. Tidak sedikit dari berita-berita yang kita baca adalah pelintiran kebencian (hate spin) yang dikemas sedemikian rupa seolah-olah menjadi berita yang tampak benar, padahal yang sesungguhnya memuat ujaran kebencian yang di pakai untuk tujuan memecah belah. Mereka yang memproduksi ujuran kebencian memanipulasi ruang-ruang demokrasi demi menekan kelompok lain atau pribadi-pribadi tertentu demi kepentingan kelompok-kelompok atau politisi-politisi oportunis.

Dalam memproduksi pelintiran kebencian, para penggagasnya tidak segan-segan memanfaatkan agama sebagai alat, sehingga fanatisme beragama menyeruak di ruang publik. Alhasil, agama dengan terang-terangan dipakai dalam proyek delegitimasi idiologi dan hukum negara. Gabriel Marcel dalam kondisi yang demikian mengungkapkan bahwa saat itu misteri sebagai inti agama disangkal. Agama diperlakukan seperti milik berharga yang memberi rasa bangga dan superior bagi pemiliknya sekaligus membuatnya sensitif dan mudah tersinggung. Namun fanatisme itu sekaligus juga mengasingkan pemeluknya dari keyakinan agama yang sesungguhnya dan kemudian dikuasai oleh tirani baru. Dan kebanggaan beragama bukan ditunjukkan dalam kerendahan hati, melayani sesama dan berkorban tanpa pamrih,  melainkan dalam sikap fanatik yang menghakimi sesama dan menghalangi terwujudnya masyarakat demokratis.

Memperhatikan semua itu, maka berita Paskah tahun ini harusnya menjadi berita yang mampu  menghadirkan narasi yang berbeda di udara negeri kita. Menjadi berita yang menghadirkan kemenangan atas ketidakbenaran, kebohongan, kebencian, dan fanatisme. Panggilan kita sebagai GKI adalah “melawan” semua narasi yang berisikan pelintiran kebencian dengan narasi damai yang menghadirkan kesejukan. Narasi yang di dalamnya semua anak bangsa merasa menang karena kebaikan dan kebenaran terwujud.

Selamat Paskah bagi seluruh anggota Jemaat dan simpatian GKI, kiranya semangat Paskah menyemangati kita untuk terus memancarkan kasih dan cinta-Nya kepada sesama dan semua. Tuhan memampukan kita untuk meneruskan beritaNya dalam panggilan yang kita kerjakan.

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.