Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Allah, Pencipta cakrawala… Segala Serafim, Kerubim, pujilah Dia besarkanlah nama-Nya… Bersorak-sorai bagi Rajamu!

Lagu ini termuat baik di Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB No. 7), maupun dalam Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ No. 27). Temponya cukup energik, sehingga sering dijadikan nyanyian pembuka dalam prosesi ibadah. Hal yang sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan intensi melodi asli nyanyian ini dalam musik tradisional Batak Toba.

Betul, rangkaian nada kidung berjudul Nyanyikanlah Nyanyian Baru ini memang diambil dari salah satu varian pembuka gondang yang terbilang agak terkini dalam tortor Toba. Jadi sebenarnya tidak terlalu ‘tradisional’ dalam arti sudah berabad-abad, meski nadanya masih tetap pentatonis. Biasanya melodi ini dimainkan saat rombongan akan memasuki tempat pesta.

Melodi itu memang lebih sering dibawakan instrumentalia, atau setidaknya tidak lazim dinyanyikan liriknya dalam bahasa Toba. Sebagai lagu Kristiani, kidung ini barulah digubah dan diberi lirik pada tahun 1988 oleh T. Lubis. Ia mengutip secara lepas Mazmur 148 sebagai syair yang mengisi melodi tersebut.

Dalam hal ini Nyanyikanlah Nyanyian Baru berbeda dengan lagu pujian lain yang juga diambil dari lagu tradisional semisal Hiburkanlah, Hiburkan Umat-Ku, yang juga termuat dalam buku Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB No 52) dan Gita Bakti (GB No. 25).

Kidung Hiburkanlah, Hiburkan Umat-Ku, mengambil nada dari lagu tradisional yang sudah amat dikenal liriknya dalam bahasa Simalungun, yaitu Tading Ma Ham Botou (Secara harafiah: Selamat tinggal duhai kekasih). Bagi rekan-rekan yang berlatar budaya Simalungun, nuansa Masa Advent yang ditujukan oleh versi Kristen dari lagu itu, tentu masih kalah rasa dibanding nuansa perpisahan kekasih yang sedari awal menempel di melodi lagu itu. Namun, Nyanyikanlah Nyanyian Baru, tidak dibebani kemelekatan nuansa demikian, karena tidak lekat terasosiasi dengan lirik tertentu.

Niatan mengangkat musik khas Indonesia sebagai ekspresi pujian, meski masih punya sejumlah kekurangan, tentu patut diapresiasi. Upaya menghadirkan musik kontekstual untuk keperluan liturgi telah mengemuka di gereja-gereja ekumenis Asia dan Afrika sejak tahun 1970-an. Di Indonesia sendiri semangat itu mulai marak sejak 1980-an ditandai dengan munculnya cukup banyak buku nyanyian yang berbahasa Indonesia maupun daerah, yang diterbitkan secara nasional maupun sinodal. Nyanyikanlah Nyanyian Baru adalah contoh yang cukup baik dalam upaya itu. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.