“Dunia boleh katakanku tak berarti, Dunia boleh katakanku bukan siapa-siapa

Tapi ku hanya dengar apa kata Yesus, Dia katakan ku istimewa

Ku istimewa karna aku milikNya, Ku istimewa berharga dimataNya

Ku istimewa Yesus mengasihiku, Dia lahir di dalam hatiku dan jadikanku istimewa…”

Syair pujian itu dibawakan band Rawinala dalam Ibadah Peneguhan Pdt. Yerusa Maria Agustini di GKI Pakuwon pada Senin awal Oktober lalu. Ibadah itu bertempat di Aula SMAK 1 BPK Penabur Tanjung Duren, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Tema Strength in Vulnerability bukan sekedar slogan, sebab ibadah ini merupakan ibadah inklusif melibatkan anggota jemaat bersama dengan Difable untuk berpartisipasi dalam ibadah. Mereka yang ikut ambil bagian berasal dari Komisi Tuna Rungu GKI Pinangsia, Jakarta Barat, Komisi Tuna Rungu GKI Pasir Koja, Bandung serta Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala, Jakarta Timur. Liturgi awal dipimpin oleh Pdt. Daud Chevi Naibaho, sementara Firman Tuhan diambil dari 2 Korintus 12:9-11 dan disampaikan oleh Pdt. Cordelia Gunawan.

Dalam kotbahnya Pdt Cordelia menekankan tak ada manusia yang sempurna, yang ada hanyalah Tuhan yang Maha Sempurna. Sehingga bukanlah suatu yang memalukan untuk bertemu dengan ketidaksempurnaan, apalagi merengek-rengek atau malah menghakimi. Justru dalam ketidaksempurnaanlah, kuasa Tuhan menjadi nyata.

Pelayanan peneguhan juga dipimpin oleh Pdt. Cordelia dengan menumpangkan tangan kepada calon pendeta yang yang akan diteguhkan dalam posisi berlutut, dikelilingi oleh para pendeta lain. Pemandangan yang inklusif kian terasa saat pengakuan iman juga disertai bahasa isyarat oleh komisi Tunarungu Pasir Koja, Bandung. Demikian pula saat lagu berkat Kasih Tuhan Mengiringimu yang dibawakan oleh VG Serafim.

Pdt. Yerusa menjelaskan ibadah peneguhan dalam bentuk seperti ini adalah bagian dari pendidikan pada jemaat tentang sikap Kristiani terhadap saudara-saudari yang difabel. Menurutnya, di tengah jemaat disabilitas seringkali dipandang sebagai suatu bentuk kerapuhan manusia.

Padahal, dalam perspektif Teologia Kerapuhan, semua orang sejatinya tidak ada yang luput dari kerapuhan. Tiap orang punya kerapuhannya masing-masing, baik orang yang hidup dengan disabilitas maupun yang tidak disebut hidup dengan disabilitas,” ujar pendeta yang sebelumnya melayani di GKI Serua Indah ini.

Lewat Kebaktian Inklusif ini yang terlihat bukan hanya seorang pendeta yang diteguhkan dengan didampingi oleh rekan-rekan sejawat pendeta-pendeta lainnya tetapi juga ada persekutuan yang indah antara mereka yang difable maupun yang tidak sebagai satu tubuh Kristus.

Perspektif kekuatan dalam kerapuhan diyakini akan memberi inspirasi dan sekaligus menguatkan kita untuk tak pernah melarikan diri dari kerapuhan. Namun, menerima dan berdamai dengannya, untuk menemukan kekuatan yang ada di dalamnya. Kita diajarkan untuk tidak perlu takut dengan kerapuhan karena itu bagian dari kehidupan komunitas yang tidak terelakkan. Dalam penerimaan atas kerapuhan komunitas akan merasakan kekuatan. Karena dalam kerapuhan, karena saling bergantung satu dengan yang lain dan komunitas kita bergantung pada Tuhan.

Kontributor: Lina Nababan

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.