Cobalah perhatikan tanaman bambu! Nampaknya dari sana kita bisa belajar tentang memberi diri dan saling melayani.

Tanaman yang ramping dan tinggi ini hidup berkelompok dalam satu rumpun keluarga dan saling berdekatan, seolah saling memberi diri. Jika suatu ketika mengalami terpaan angin kencang, maka batang-batang bambu akan meliuk-liuk dan merunduk untuk membiarkan angin kencang itu berlalu. Setelah itu mereka akan menegakkan batangnya kembali.

Kedekatan mereka dalam suatu rumpun membuat mereka dapat saling menolong dan menguatkan ketika terjadi angin kencang sehingga tidak sampai patah atau tercabut dari akarnya yang mencengkram tanah dengan kuat.

Pada awal pertumbuhannya, tanaman bambu itu bertumbuh dengan sangat lambat karena ia harus menguatkan akarnya lebih dulu. Setelah itu ia baru akan bertumbuh dengan sangat cepat, bisa mencapai puluhan sentimeter dalam sehari, sehingga tidak mengherankan jika tinggi pohon bambu bisa mencapai puluhan meter menjulang tinggi dengan batang yang lurus.

Tanaman bambu mengajarkan arti sebuah kehidupan manusia yang berakar pada keluarga dan komunitas, saling berdekatan dan saling menolong ketika badai hidup menerpa. Fleksibilitas tanaman bambu mengajarkan kita untuk tidak pernah menyerah ketika harus mengalami pencobaan dalam hidup, meskipun harus meliuk-liuk karena ditopang akar iman yang teguh. Setelah badai hidup berlalu, kita harus kembali bangkit untuk meneruskan perjalanan hidup kita.

Rasul Paulus dalam perjalanannya ke Korintus bertemu dengan sepasang suami-istri. Mereka adalah Akwila dan Priskila, keduanya berasal dari Pontus, sebuah daerah di wilayah Asia Kecil. Sebagaimana setiap orang Yahudi yang selalu dibekali dengan keahlian oleh orangtuanya, Akwila dan Priskila juga diajarkan untuk menjadi pembuat kemah sebagai keahlian mereka untuk mencari nafkah. Rupanya kesamaan keahlian ini membuat mereka dapat bertemu dengan rasul Paulus yang juga adalah pembuat kemah.

Akwila dan Priskila pada awalnya berangkat dari Pontus untuk memulai kehidupan baru di kota Roma. Tetapi pada waktu itu Kaisar Klaudius memerintahkan untuk mengusir setiap orang Yahudi dari Roma. Ini merupakan badai kehidupan bagi mereka yang mengharuskan mereka meninggalkan Roma dan menetap di Korintus.

Di sini mereka harus memulai menjadi tukang kemah dan berdagang tenda dari awal lagi, mereka hanya mampu memiliki sebuah rumah kecil. Tetapi hati mereka sangat besar karena bersedia menerima rasul Paulus untuk tinggal bersama selama delapan belas bulan dan selama itu pula mereka banyak menerima pengajaran dari rasul Paulus dan bersama-sama pula mereka menjadi tukang kemah dan berdagang tenda untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Dengan bimbingan rasul Paulus, mereka banyak belajar tentang firman Tuhan sehingga akhirnya mereka ikut melayani umat Kristen di Korintus. Bahkan ketika bertemu dengan Apolos, mereka juga yang bersedia menolongnya dengan memberitahukan tentang hal jalan Tuhan yang benar untuk melengkapi pelayanan Apolos selanjutnya. (Kis.18:24-27).

Kisah Akwila dan Priskila mengajarkan kita tentang kehidupan suami-istri yang bersehati dalam mencari nafkah, saling melayani, dan setia dalam melayani Tuhan. Mereka terbuka menerima rasul Paulus yang baru dikenal untuk tinggal di rumah mereka dan berbagi dalam mencari nafkah. Bahkan mereka mau belajar banyak tentang firman Tuhan dan keakrabannya dengan rasul Paulus selama delapan belas bulan membuat mereka banyak memahami firman Tuhan dengan benar.

Priskila diduga lebih maju dalam pelayanan karena dalam beberapa ayat, nama Priskila didahulukan daripada suaminya. Namun, tampaknya Akwila tidak cemburu akan hal tersebut. Mereka juga mau menolong orang lain untuk memahami firman Tuhan dengan benar. Ini dilakukan dengan mengajak Apolos ke rumah mereka untuk memberitahukan hal tentang jalan Tuhan yang menjadi bekal yang sangat berguna bagi Apolos dalam pelayanannya.

Memberi diri dan saling melayani seperti ini adalah karakter keluarga Kristen. Meneladan karakter Kristus yang sudah terlebih dulu memberikan diri-Nya dan melayani umat manusia. Hendaknya masing-masing anggota keluarga bersedia merendahkan hati untuk saling melayani serta memuliakan Kristus dalam keluarga dan sepanjang hidup.

Tim Bina Jemaat GKI Kota Wisata

Ilustrasi: Guardian

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.