Istilah ketaatan seperti mayat pertama kali saya dengar dari buku Steven Garber yang berjudul Panggilan untuk Mengenal dan Mengasihi Dunia. Garber berupaya memberikan tetesan hikmah yang mengejutkan bahwa banyak kejahatan terjadi bermuara pada satu hal sepel yaitu ketidakpedulian.

Salah satu bagian dari buku itu, mengisahkan seorang filsuf Yahudi-Jerman, Hannah Arendt yang mengikuti proses pengadilan bagi Adolf Eichmann, seorang petinggi NAZI. Lima belas tahun pasca perang, Eichmann ditangkap dan diadili di Yerusalem atas kejahatannya terhadap orang-orang Yahudi.

Dalam laporannya, Arendt menyatakan dirinya sangat terguncang. Sebab ia menyaksikan betapa Eichmann merasa sama sekali tidak berdosa terhadap kejahatan yang dilakukannya. Sebaliknya, dalam pengakuannya, ia mengatakan bahwa ia “hanya melakukan tugasnya”.

Seperti inilah yang terjadi. Ini adalah hukum baru di negara ini, berdasarkan perintah Fuhrer. Apa pun dilakukannya. Sejauh yang bisa dilihatnya sebagai warga negara yang taat hukum. Ia melakukan tugasnya, seperti yang dikatakan kepada polisi dan pengadilan berkali-kali. Ia bukan hanya menaati perintah. Ia juga menaati hukum,” komentar Arendt terheran.

Eichmann merasa tidak terima dipersalahkan dalam kasus pembantaian orang-orang Yahudi. Ia memprotes keputusan hakim yang menjatuhinya hukuman mati. “Saya tidak ada hubungannya dengan pembunuhan orang-orang Yahudi. Saya tidak pernah membunuh seorang Yahudi, atau pun seorang non-Yahudi. Saya tidak pernah membunuh manusia mana pun. Saya tidak pernah memberikan perintah untuk membunuh seorang Yahudi atau non-Yahudi. Saya tidak melakukannya,” ungkapnya di pengadilan.

Cuci Tangan
Kisah penyaliban Yesus juga menunjukkan ketaatan senada. Setelah palu pengadilan agama diketok bahwa Yesus dijatuhi hukuman mati atas tuduhan penodaan agama Yahudi, Yesus dihadapkan pada pengadilan tinggi oleh Pontius Pilatus. Sayangnya, pasal penodaan agama ini tidak ada dalam KUHP-nya bangsa Romawi. Namun karena ia tidak dapat tahan menghadapi tekanan massa, akhirnya ia “mencuci tangan” terhadap jatuhnya hukuman mati atas diri Yesus. Bolehlah kita membayangkan Pilatus berkata, “Aku hanya menghormati hukum Yahudi. Aku tidak bersalah!” Ini adalah ketaatan mayat.

Namun harus diakui bahwa situasinya tidaklah mudah. Kadang-kadang, mengadakan perlawanan bisa dikatakan adalah sebuah kesia-siaan sehingga kita berkilah “tidak punya pilihan”. Sia-sia. Ketimbang melakukan usaha yang sia-sia namun berisiko sangat tinggi, mending tidak melakukan apa-apa.

Di antara kalangan pemimpin Yahudi, pasti ada segelintir orang yang tidak menyetujui keputusan tersebut, misalnya saja Yusuf dari Arimatea. Apakah ia tidak melakukan perlawanan pada saat pengadilan agama sedang dilangsungkan? Mungkin iya, mungkin tidak. Bisa jadi, sekali pun ia berteriak-teriak menyatakan ketidaksetujuannya, itu adalah kesia-siaan sebab Yesus pasti disalibkan. Suaranya hanyalah sebutir debu belaka!

Demikian pula Nikodemus yang malam-malam datang kepada Yesus menunjukkan ia punya sikap dan pandangan yang berbeda dengan kelompoknya. Ia sempat membela Yesus, tapi tidak digubris. Maka bekerja sama dengan Yusuf, ia mengurus penguburan Yesus. Di luar dua orang itu, dan mungkin ada beberapa lagi yang lain yang tidak dicatat Alkitab, ada ratusan orang yang ikut saja apa kata para petinggi.



Ketidakpedulian Kita
Dalam beberapa hal kita pun kerap kali merasa tangan kita bersih tatkala mendengar banyak kejahatan dan keprihatinan sosial terjadi di sekitar kita, mulai dari korupsi, human-traficking, pembunuhan, pemerkosaan, kemiskinan struktural, kebodohan, pornografi, prostitusi, penganiayaan anak, kekerasan, dan lain-lain.

Kita bukanlah pelaku. Kita tidak membunuh, memperkosa orang dan memeras sesama. Kita mencari uang dengan halal. Kita juga tidak merugikan orang lain. Plus, kita taat beribadah, melayani bahkan menjadi anggota majelis gereja yang setia dan memang seperti itu kelihatannya.

Situasi-situasi yang sulit membuat kita tidak mudah menilai apakah pilihan yang diambil itu hitam atau putih. Namun setidaknya, kita tidak menjadi seonggok mayat yang taat. Semakin matang usia, seharusnya membuat kita makin jeli melihat segala sesuatunya. Kita punya akal budi untuk berpikir dan melihat situasinya secara mendalam. Situasi ketidakadilan dan kejahatan kerap kali masuk secara halus, senyap dan berlapis-lapis.

Lari dari tanggung jawab nampaknya wajar dilakukan. Kita ingin melindungi diri dan keluarga, dengan mendukung pilihan sikap yang diambil komunitas dominan dalam sebuah sistem sosial. Dengan kata lain, kita ingin menunjukkan diri kita sebagai warga negara/komunitas yang “taat pada hukum dan peraturan”. Kita tidak ingin menyusahkan hidup kita sendiri dengan menanggung julukan tukang protes atau tukang kritik. Bersama Eichman, kita berkata: “Saya hanya menaati perintah dan aturan.

Kita perlu memerdekakan pikiran kita untuk menimbang, menilai dan mengevaluasi dengan cermat, cerdas dan obyektif. Fokus pada penyelamatan diri sendiri akan mempercepat kerusakan sistem sosial. Kebusukan moral negeri menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau lembaga-lembaga pendidikan/keagamaan. Kita tidak bisa cuci tangan, tidak bisa taat seperti mayat.

Penulis: Pdt. Andy Gunawan (GKI Citra Raya)

Ilustrasi: Cnet

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.