Lagu-lagu seperti apa yang kini sering dinyanyikan di GKI dan gereja-gereja di Indonesia? Jawabannya tentu terbilang kompleks. Mulai dari kidung-kidung yang amat klasik, era himne khas gereja Eropa, lagu-lagu kontemporer, hingga upaya untuk mengembangkan lagu pujian yang bernuansa etnik. Teologi GKI yang berupaya untuk inklusif, mengakar pada kekristenan yang mengindonesia serta menghargai warisan klasik tradisi kekristenan tentu harus berimbas pula pada musik yang dipakai dalam ibadahnya.

Hal seperti itulah yang menjadi perhatian dari Komisi Liturgi dan Musik (KLM) Sinode GKI saat menggagas acara Pertemuan Raya Pemusik Ibadah (PRPI) 2018. Acara ini telah digelar dua kali, di Surabaya pada 8-10 September lalu dan di Bandung pada Sabtu-Selasa (17-20/11). Acara di Bandung berlangsung lebih lama, yaitu empat hari, bertempat di Wisma Shalom, Kabupaten Bandung Barat. Lebih dari 170 orang peserta mengikuti kegiatan ini.

Ketua KLM Sinode GKI, Pdt. Guntur Wibisono menjelaskan bahwa PRPI kini semakin dirasakan kebutuhannya, seiring dengan semakin kompeksnya hal-hal terkait musik gerejawi belakangan ini. Kegiatan yang dulu bertajuk Pertemuan Raya Pemusik Gereja (PRPG) ini, menurutnya telah memberi stimulus yang sangat baik untuk mengembangkan musik gerejawi di tiap jemaat.

Kita memang perlu upaya yang konsisten untuk menghadirkan teologi yang kita yakini dalam khasanah bermusik gereja. Perlu ada sistem yang baik, juga teladan yang menginspirasi untuk membina pemusik dan meningkatkan kualitas pujian di jemaat. Ini bukan upaya yang terlalu mahal, namun jelas butuh kerja yang lebih serius,” ujar Pdt. Guntur.

Menurut pendeta jemaat di GKI Cinere ini, GKI memang perlu mewujudkan konsep keterbukaan dalam musik sekaligus memberi kerangka agar banyak unsur dan kreativitas bisa ditampung. “GKI kan bukan hanya lagu-lagu hymns saja, tapi terbuka untuk banyak unsur baru, namun tetap punya pola yang bisa menampung hal-hal tadi dengan ciri yang khas,” paparnya.

Kerinduan itu memang dicoba untuk dielaborasi dalam PRPI kali ini. Dari tiga sesi pleno dan tujuh sesi kelas, para peserta belajar sekaligus berlatih tentang banyak aspek dalam lagu pujian dari pemateri dan rekan-rekannya sesama pemusik. Tidak hanya teori dan keterampilan, para peserta juga diajak untuk berbagi dan mengalami sendiri penghayatan musik gerejawi, lewat sharing para penggubah lagu dan momen Evening Prayer tiap malam bersama sejumlah tim musik dari GKI Taman Cibunut, GKI Guntur, GKI Sudirman, GKI Puri Indah dan GKI Muara Karang. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.