Yesus pernah memberikan perumpamaan tentang anak yang hilang serta mengajarkan tentang pertobatan. Dikisahkan tentang seorang pemuda, bungsu dari dua bersaudara yang memaksa bapaknya untuk memberikan bagian warisan bagi dirinya, lalu meninggalkan rumah bapaknya dan pergi ke kota lain. Di sana ia hidup dengan berfoya-foya sehingga dengan segera uangnya habis dan menjadi miskin. Untuk mempertahankan hidup, lalu ia bekerja pada orang lain dan menjadi penjaga ternak milik orang lain.

Setelah didera dengan kehidupan yang sangat berat, ia teringat akan rumah bapaknya dan membandingkan hidup sebagai hamba orang lain dengan kehidupan di rumah bapaknya. Ia menyadari akan kesalahan yang telah ia perbuat dan bertekad untuk bertobat serta memohon pengampunan kepada bapaknya meskipun membayangkan kemarahan bapaknya atas kesalahannya. Ternyata sang bapak bahkan menyambut kembalinya dia dengan ramah dan memaafkan segala kesalahannya.

Barbara Engel, seorang penulis mengatakan bahwa permintan maaf atau pertobatan tergantung pada tiga hal yaitu: penyesalan, tanggung jawab dan perubahan atau tindak lanjut. Kisah anak yanghilang di atas menunjukkan bahwa si anak menyesal telah berbuat kesalahan besar sehingga ia bertekad untuk memohon ampun atas kesalahannya dan akan menerima hukuman apapun dari bapaknya sebagai tanggung jawab atas kesalahannya, bahkan ia rela disebut bukan anak bapaknya lagi dan rela menjadi orang upahan di rumah bapaknya sendiri.

Pertobatan akan menjadi sia-sia dan mendatangkan hukuman atas mereka yang tidak bersedia melakukan perubahan atau kembali melakukan dosa dan kesalahan yang sama seperti yang terjadi pada Niniwe. Pada awalnya kota itu akan menerima hukuman atas kejahatan mereka, sehingga Allah mengutus Yunus untuk menyampaikan bahwa dalam tiga hari, kota Niniwe akan ditunggang-balikkan.

Peringatan dari Allah segera ditanggapi oleh raja Niniwe, lalu ia memerintahkan seluruh mahluk hidup di kota itu untuk bertobat, berpuasa dan mohon pengampunan kepada Allah atas dosa-dosa mereka. Allah mengampuni dan membatalkan hukuman bagi Niniwe, peristiwa itu terjadi pada abad ke 8 SM. Namun beberapa tahun kemudian mereka kembali melakukan dosa dan pelanggaran terhadap ketentuan Allah, sehingga pada tahun 612 SM Allah menghukum Niniwe melalui banjir besar dari luapan dari sungai Tigris yang menenggelamkan Niniwe, kemudian kota itu dihancurkan oleh para musuh mereka.

Seseorang yang berdosa seperti melayang-layang dalam kegelapan, ia tidak tahu arah tujuan bahkan tidak dapat mengendalikan arah dan tujuan hidupnya karena serba gelap di sekelilingnya. Ia tidak dapat melihat apapun sampai ada tangan yang menyentuh, memegang, dan menuntunnya ke arah terang, baru dapat menyadari keberadaannya ketika sudah berada dalam terang.

Orang yang bertobat dan menerima pengampunan adalah seperti orang yang keluar dari kegelapan dan masuk ke dalam terang, ia dapat melihat mana jalan yang benar yang harus dijalani dan mana jalan yang salah yang harus dihindari.

Minggu ini kita berada pada Minggu Adven III yang disebut juga dengan Minggu “Gaudeta” atau Minggu Sukacita, ini dilambangkan dengan nyala lilin yang berwarna merah muda dalam ruang kebaktian di gereja kita. Dalam Masa Adven ini, kita patut bersuka-cita seperti kisah “anak yang hilang”, seperti sang bapak yang menemukan kembali anak bungsunya yang hilang dan kini telah kembali ke rumahnya.

Namun kita juga perlu mengingat kembali bahwa pertobatan hendaknya dilakukan dengan serius dan senantiasa dijaga agar tidak seperti pertobatan semu Niniwe yang pada akhirnya harus menerima hukuman Tuhan dengan ditenggelamkan dalam air bah.

Marilah kita menyambut panggilan dari Yohanes Pembaptis untuk bertobat dan mempersiapkan dengan sukacita dengan kerelaan untuk berbagi dengan sesama. Janganlah kita menginginkan sesuatu yang lebih daripada yang Tuhan karuniakan kepada kita masing-masing, dan jangan kita menginginkan segala sesuatu yang bukan merupakan hak kita. Hiduplah sesuai dengan kasih karunia yang diberikan kepada kita masing-masing (Luk. 3:11-14).

Tim Bina Jemaat GKI Kota Wisata

Ilustrasi: Sermon of John Baptist (Frans Fourbus)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.