Dalam kalender gerejawi, Minggu Advent III sering juga disebut dengan Gaudette Sunday ditandai dengan lilin warna merah muda yang juga melambangkan sukacita. Dalam Bahasa Latin kata gaudette memang berarti sukacita.

Ini merupakan ekspresi dari sukacita di masa penantian, sebab pengharapan yang tidak tertahankan lagi karena kelahiran Tuhan sudah sangat dekat. Kedatangan Tuhan yang membawa warta kegembiraan dan keselamatan.

Namun, untuk menyambut kedatangan Tuhan tidak cukup hanya sukacita saja, tapi harus disertai kehidupan yang memperlihatkan pertobatan sungguh. Hal inilah yang dinyatakan Yohanes pembaptis bagi orang banyak yang mendengarkan dia saat itu.

Bagi sekelompok orang disana yang merasa benar dan merasa tidak perlu bertobat karena sudah menjalani ritual agama dengan salehnya, mereka berpikir bahwa mereka akan lepas dari murka Allah karena mereka adalah keturunan Abraham. Kepada mereka ini, Yohanes Pembaptis menegur mereka dengan keras. Ia bahkan mereka sebagaiketurunan ular beludak, yang bukan sekedar telah diracuni, tetapi memang benar-benar beracun.

Yohanes memberi peringatan keras kepada mereka untuk bertobat dan menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Tidak ada cara lain untuk melarikan diri dari murka yang akan datang, kecuali melalui pertobatan (Luk. 3:7-9). Kata kata yang sangat keras itu membuat banyak orang menjadi gelisah lalu memohon agar mereka dibaptis dan berniat untuk memperbaharui diri.

Siapa yang datang pada waktu itu? Ada macam-macam kelompok: orang kaya, pemungut cukai, dan tentara. Kelompok-kelompok ini dianggap sebagai orang kelompok yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan sesama manusia, kelompok yang serakah, rakus serta kelompok pemeras. Orang-orang seperti ini dalam konteks keagamaan pada waktu itu dianggap tidak tertolong lagi. Tetapi kita melihat bagaimana orang-orang seperti ini masih memiliki kesempatan.

Saat mereka berkata “Apa yang harus kami perbuat?” ini menunjukkan bahwa mereka mau berubah dan hal ini membutuhkan sikap berani dan jujur. Cara-ara memperbaiki diri yang dianjurkan Yohanes Pembaptis yaitu dimulai dari kehidupan pribadi masing-masing.

Yang serba berkecukupan dianjurkan berbagi kelebihan dengan orang lain, yang mempunyai wewenang menarik pajak hendaknya belajar berlaku jujur, yang memiliki kekuasaan, senjata, dan organisasi dapat belajar agar tidak mempraktekkan kekerasan.

Apa artinya semuanya itu? Artinya orang mau berproses mengubah diri atau memperbaharui diri maka perlu belajar memperhatikan sesama, belajar berlaku adil dan lurus. Bertobat bukan hanya berarti perubahan pikiran, melainkan yang terutama adalah arah dan sikap hidup. Maka harus ada buah pertobatan yang membuktikan kesejatian pertobatan itu. Pertobatan palsu atau pura-pura akan berakibat mengerikan, yaitu penghukuman keras.

Mari kita lihat ke dalam diri sendiri. Adakah bukti pertobatan yang harus kita wujudkan? Mungkin cara kerja kita yang berpusat pada diri sendiri telah merugikan sesama kita. Atau pelayanan kita di gereja atau masyarakat bermotivasi untuk keuntungan kita sendiri. Atau kita menyalahgunakan kepercayaan orang lain dengan memanfaatkannya untuk kepentingan kita sendiri. Atau mungkin ada hal-hal lain yang Tuhan nyatakan kepada Anda?

Mari sama-sama bertobat dan menghasilkan buah pertobatan yang menyenangkan Tuhan dan yang menjadi berkat bagi orang lain. Sebab bertobat bukanlah hal yang menyesakkan dada dan menyulitkan perilaku hidup. Hidup dalam pertobatan itu mendatangkan kebahagiaan dan sukacita. Gaudette!

Penulis: Pdt. Henni Herlina (GKI Agus Salim)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.