Anak-anak adalah anugrah Tuhan yang sangat berharga. Sementara menjadi orangtua adalah kepercayaan sekaligus tanggung jawab yang Tuhan berikan. Salah satunya untuk mendidik.

Pada kenyataannya berperan sebagai orangtua tidak pernah mudah, sebab selalu ada tantangan yang harus dihadapi. Pola pengasuhan dan pendidikan anak selalu mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya informasi dari pakar-pakar yang melakukan penelitian mengenai tumbuh kembang anak.

Sebagai pribadi yang tumbuh di dunia digital, tidak bisa dipungkiri para orang tua di generasi milenial ini kerap menggunakan pola pengasuhan terkini sesuai dengan arahan para ahli, demi menyesuaikan pendidikan anak. Tidak jarang talkshow dan seminar yang membahas pola parenting menjadi tempat langganan para orang tua menggali ilmu.

Para orangtua diberikan mandat untuk mengelola anugrah itu, salah satunya adalah mendidik dengan kasih sayang dan disiplin. Kasih dan disiplin merupakan kebutuhan dasar setiap anak dalam upaya pembentukan karakter yang sehat. Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan, demikian pula dalam penerapannya, kasih dan disiplin harus diterapkan secara seimbang. Kasih adalah alasan, motif dan tujuan adanya disiplin, dan disiplin merupakan perwujudan kasih itu sendiri.

Namun, masih saja banyak orangtua yang memahami kata disiplin sama halnya dengan memberi hukuman dengan kejam. Padahal, mendisiplinkan anak tidak memerlukan kekerasan. Sebab kekerasan selalu berdampak buruk, tak jarang anak-anak mengalami trauma akibat kekejaman orang tuanya. Membuat anak menjadi disiplin justru selalu diperlukan adanya kasih sayang yang tulus. Penerapan kasih dan disiplin secara tepat pada pendidikan anak akan sangat berpengaruh pada perkembangan karakter dan masa depannya.

Sebuah pepatah yang terkenal mengatakan, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” Pepatah ini berbicara tentang warisan yang diturunkan kepada satu generasi ke generasi berikutnya. Pertanyaannya, apakah yang akan kita wariskan dan hasilkan dari pola pendidikan yang kita terapkan? Pengalaman traumatis, perasaan dendam atau keluhuran akal budi?

Penulis Amsal telah menerima pesan dan hikmat yang diturunkan dari ayahnya. Dan sekarang, ia pun juga rindu agar anak-anaknya menerima pesan yang sama, yaitu berupa didikan, pengajaran, perintah agar mereka menjadi orang yang berhikmat. Beberapa hal yang menjadi catatan agar diperhatikan dalam mendidik anak-anak :

1. Bertekunlah, ajarkanlah berulang-ulang
Bukan proses sekali jadi! Ya, itu kalimat yang harus kita ingat ketika kita mendidik anak-anak. Jangan pernah menyerah jika apa yang kita nasihatkan nampak nihil. Sekali lagi, nasihatilah! Nasihatilah, sekali lagi! Dimanapun dan kapanpun, sampaikan apa yang baik bagi bekal masa depan mereka. Sekalipun menjadi orangtua di zaman sekarang makin dipenuhi dengan banyak sekali urusan, tetapi mendidik anak tetaplah menjadi sebuah tanggungjawab yang harus dilakukan dengan penuh ketulusan.

2. Menjadi teladan dalam keseharian
Anak-anak memang mudah untuk mengerti apa yang orangtua katakan. Tetapi mereka makin mudah untuk memahami apa yang orangtua lakukan. Teori dalam mendidik anak itu penting, tetapi sebuah teori akan menjadi efektif jika diimbangi dengan penerapan.

Orangtua diutus untuk melakukan apa yang baik, bukan hanya membicarakan apa yang baik. Anak-anak adalah peniru ulung dari setiap tingkah laku orangtuanya. Oleh karena itu, jadilah bijak. Mintalah kekuatan dari Tuhan supaya kita juga dapat menjadi teladan bagi generasi muda.

Penulis: Pdt. Febe Orianta Hermanto (GKI Gunung Sahari)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.