Pasca Pemilu, media sosial kita dipenuhi dengan berita-berita yang semakin mempertajam polarisasi seputar hasil Pemilu 2019. Semakin hari situasi menjadi semakin panas. Kita pun tanpa sadar terbawa dalam pusaran perang opini yang membuat kita terseret semakin jauh.

Kita mungkin sibuk dengan meneruskan berita-berita, video-video yang semakin membuat tajam polarisasi. Atau kita membuat berita menyanggah, mendukung, entah apa pun berita itu namun bisa saja berita yang kita buat malah membuat jarak itu semakin jauh.

Kita sudah dapat melewati Pemilu dengan baik, bahkan banyak saudara sebangsa setanah air yang meninggal dunia karena begitu all out melakukan yang bisa mereka lakukan. Banyak pihak berjuang untuk memberi suara. Banyak pihak yang berjerih lelah memberikan tenaga, waktu dan pikiran untuk memungkinkan Pemilu berjalan baik, suara-suara terproses dengan baik. Banyak pihak yang juga terus berjuang menjaga tanah air sehingga tanah air kita aman sampai sekarang.

Kita sudah melewati itu semua. Syukur kepada Tuhan. Namun ternyata, ini belum selesai. Pasca Pemilu, menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk kita. Ini saatnya kita kembali melakukan apa yang dapat kita lakukan bagi Ibu Pertiwi. Kita seharusnya menjaga supaya sesama anak bangsa tidak saling menyakiti. Kita menjaga supaya tidak ada korban sebagai dampak pemberitaan yang semakin tajam.

Hukum yang paling utama dalam kekristenan adalah hukum kasih. Mengasihi sesama menjadi sama pentingnya dengan mengasihi Tuhan. Mengasihi Tuhan tidak dianggap lebih luhur dari mengasihi sesama. Mengasihi Tuhan harus dibarengi juga dengan mengasihi sesama.

Tidak berhenti di situ. Mengasihi sesama harus dilakukan seperti mengasihi diri sendiri. Inti utama kekristenan ini tidak boleh kita lupakan. Jika kita mengasihi Tuhan maka suka atau tidak suka kita harus mengasihi sesama kita, sebangsa setanah air seperti diri kita sendiri.

Sekalipun berbeda pilihan. Sekalipun kita memang berbeda dan tidak akan menjadi sama, kita tetap harus dapat mengasihi mereka. Inti dari iman kita adalah mengasihi mereka seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Kita harus mampu melihat sesama kita juga sebagai bagian dari diri kita.

Sebagai gereja, kita harus dapat merangkul mereka dalam perbedaan. Mereka tidak perlu menjadi kita, kita tidak perlu menjadi mereka. Kita hanya perlu mengasihi mereka.

Sebagai gereja, kita terpanggil untuk tidak hanya asyik dengan mengasihi Tuhan melalui program-program kita, namun kita harus mengimbangi juga dengan mengasihi sesama. Apakah mereka yang sebangsa dan setanah air dengan kita, juga menjadi bagian dari program kita? Apakah mengasihi mereka masuk juga dalam agenda kita?

Memasuki bulan puasa, marilah juga kita mengadakan program-program bersama dalam upaya kita mengasihi mereka seperti mengasihi diri kita sendiri. Mereka bukan orang lain, mereka adalah sesama anak bangsa.

Jangan sampai perbedaan yang adalah kekayaan, semakin dipertajam dan kita sendiri lupa untuk juga mengasihi. Biarlah keberadaan gereja menjadi sebuah tempat di mana kasih menyapa setiap orang, kasih terbuka bagi setiap insan, apa pun pilihannya, apa pun agamanya, apa pun warna kulit dan suku bangsanya.

Haruskah tangan teracung menghina sesama
yang hidup di tanah air yang sama?
Haruskah kemarahan menutup mata hati
sehingga cinta di dada tidak lagi ada?
Haruskah mulut kita mengeluarkan sejuta caci maki
menjelekkan mereka yang adalah saudara?
Lihatlah mereka lambat lambat
mereka bukan orang lain
mereka adalah kita
kita adalah mereka
kita memang berbeda
berbeda warna kulit
berbeda agama
berbeda bahasa
berbeda suku bangsa
tapi mereka adalah kita
kita adalah mereka
bernaung di pelukan ibu pertiwi
berbagi udara, berbagi air, berbagi alam,
berbagi hidup dalam dekapan tanah air Indonesia
kita adalah mereka
mereka adalah kita
kita Indonesia

Sumber: BPMSW GKI Sinode Wilayah Jawa Barat

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.