Ada konsep besar yang diunggah Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia 2019 di Davos, Swiss Januari lalu. Di pertemuan itu Abe menjelaskan visi baru Jepang, terkait apa yang disebut sebagai Masyarakat 5.0.

Masyarakat 5.0, menurut Kantor Kabinet Jepang, merupakan sebuah masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang sangat mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik. Disebut 5.0 karena merupakan perkembangan lanjut setelah era 1.0 (masyarakat berburu dan meramu), 2.0 (masyarakat agrikultural), era 3.0 (masyarakat industri) dan era 4.0 (masyarakat informasi).

Ini bukan lagi soal modal, tetapi data yang menghubungkan dan menggerakkan segalanya, membantu mengisi kesenjangan antara yang kaya dan yang kurang beruntung. Layanan kedokteran dan pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, akan mencapai desa-desa kecil di wilayah Sub-Sahara,” ujar Abe kala itu. “Tugas kita jelas. Kita harus membuat data sebagai penghambat kesenjangan yang besar,” tambahnya.

Ide yang terbilang baru inilah yang diulas oleh Leonard Epafras sebagai salah satu pemantik refleksi dalam Konven Pendeta GKI Sinode Wilayah Jawa Barat yang berlangsung akhir April lalu. Mengulas tema besar GKI 5.0, peneliti UKDW dan ICRS UGM itu menampilkan ada banyak hal yang jelas perlu dikenali oleh gereja memasuki masyarakat era baru.

Masyarakat 5.0 ini bertumpu pada empat hal yaitu Internet untuk Segala (Internet of Things), Mahadata (Big Data), Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence), dan Robot,” papar Leonard. “Dalam cita-citanya, masyarakat ini akan menguatkan kesehatan, infrastruktur, teknologi keuangan, dan mobilitas.

Meski menawarkan sejumlah kenyamanan dan kesinambungan, ada beberapa hal yang juga patut disorot dalam konsep ini. Masyarakat Jepang sebagai benih yang menyarikan konsep ini telah memperlihatkan kematangan dalam melipahnya data serta kegemilangan teknologi.

Namun, ada kecenderungan untuk semakin melihat agama tidak menjadi hal penting, serta menjadi sangat instumentalis. Apa yang telah ditunjukkan dalam era masyarakat informasi (4.0), lewat logika digitalnya, telah memperlihatkan pada kita bagaimana pergeseran nilai begitu terasa. Saat banyaknya kanal mendahului aksesibilitas informasi, viralitas mendahului efektivitas dan efisiensi atau pencitraan yang melampaui unjuk kerja.

Ide Masyarakat 5.0 mengharuskan kita menggali kembali persoalan harkat kemanusiaan, makna dari komunitas serta menantang kita membuka banyak ruang untuk refleksi. Apakah GKI ada dalam track mengenali dan mempersiapkan diri menuju kesana? **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.