Festival Penahbisan atau disebut juga dengan Festival Kenisah (Hanukkah) merupakan hari raya selebrasi penahbisan Bait Allah yang dirayakan selama delapan hari di Yerusalem. Festival itu dimulai setiap tanggal 25 bulan Kislev Kalender Yahudi atau sekitar pertengahan bulan Desember pada tanggalan kita sekarang. Karena terjadi di musim dingin Desember, perayaan ini sering juga disebut sebagai “Natal”-nya umat Yahudi.

Perayaan Hanukkah sudah berlangsung cukup lama, bahkan sebelum zaman Yesus. Perayaan ini dimulai sejak abad ke-2 SM, dimaksudkan untuk mengenang peristiwa pada tahun 165 SM. Dimana pada tanggal itu, kaum Makkabe berhasil merebut dan menyucikan kembali bait Allah, setelah sebelumnya selama 3 tahun dinajiskan oleh raja dinasti Seleukia, Antiokhus IV Efipanes.

Dalam Yohanes 10:22-30, kita melihat cerita bagaimana Yesus ikut dalam perayaan tersebut di Bait Allah. Di sisi bait Allah yang bernama Serambi Salomo, Yesus berjumpa dengan orang-orang Yahudi yang bertanya tentang siapa jati diri Yesus sesungguhnya. Menjawab hal tersebut, Yesus menyampaikan bahwa apa yang Ia telah perbuat seharusnya telah memberi jawab kepada orang-orang Yahudi tersebut.

Jawaban Yesus itu adalah jawaban yang rendah hati. Itu sebabnya pada percakapan ini Yesus memperkenalkan Bapa yang besar dan sangat Ia kasihi. Tak perlu diucap jati diri Yesus dapat terlihat, bahkan dirasakan oleh begitu banyak orang.

Nampaknya orang-orang Yahudi yang bertanya itu sekedar berbasa-basi atau justru berniat menjebak lewat pertanyaannya. Hal ini menjadi refleksi, manakah yang lebih hakiki dalam mengungkap jati diri? Apakah melalui sekedar ucapan, atau melalui bagaimana cara kita hidup?

Di dalam kebaktian, persekutuan ataupun doa bersama serta selebrasi Kristiani lainnya, sering kali kita juga gagal membaca dan mengenali siapa Yesus itu. Kita lebih memilih menyatakan bahwa Yesus itu adalah Tuhan kita dari pada kita menunjukkannya lewat pernuatan kita, tiap hari lepas tiap hari.

Kelebihsukaan pada apa yang dikatakan, ketimbang perbuatan nyata akan membuat orang tidak peduli. Tak heran sekarang banyak orang yang apatis melihat kesengsaraan orang lain. Selebrasi kita perlu menghayati lebih jauh karya dan perjumpaan dengan Kristus. Jika kita telah mengalami hal tersebut, kita akan lebih mudah untuk mengenali Kristus dalam hidup sehari-hari.

Sumber: Tim Bina Jemaat GKI Cianjur
Ilustrasi: Ancient Origins

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.