Sepanjang sejarah gereja, tidak ada kelompok etnis yang seperti jemaat Tionghoa, yang punya sekian banyak gereja di berbagai negara dengan sejarah yang panjang. Lebih jauh, umat Kristiani-Tionghoa berasal dari banyak kewarganegaraan, berbicara dengan beragam bahasa dan dialek, biasanya juga bersentuhan akrab dengan banyak budaya lain, serta umumnya mandiri…

Demikian salah satu dokumen Chinese Coordination Centre of World Evangelism (CCCOWE) menulis keunikan ladang pelayanan bagi warga Kristiani-Tionghoa.

Apa yang diungkap CCCOWE itu memang kembali mengungkap kenyataan bahwa term umat “Kristiani-Tionghoa” bukan melulu mengacu pada jemat Kristen di negeri Tiongkok, yang memang jumlahnya juga terbilang besar. Tapi juga, memandang luas dan dalamnya pengaruh kekristenan Tionghoa di luar RRT, yang justru punya keunikan lain. Ada potensi yang besar yang sangat mungkin mendukung pelayanan umat Kristiani sedunia.

Ciri keluasan, kemandirian dan keterbukaan itu pula yang terjadi di banyak sejarah berdirinya gereja-gereja Tionghoa di berbagai wilayah dunia, termasuk di Indonesia. Di GKI sendiri kita melihat bahwa kebanyakan jemaat awal di berbagai kota, terbentuk karena pencarian spiritual mandiri warga Tionghoa. Pembentukan pelayanannya pun kebanyakan ditopang oleh semangat kemandirian. Tak sampai disitu, semangat keterbukaan pun menjadikan jemaat ini mengindonesia, tidak terbatas hanya bagi etnis Tionghoa saja.

Meski demikian, tentu ada kerinduan untuk melestarikan tradisi Tionghoa, terutama dalam hal bahasa dan sejumlah adab-budaya. Di beberapa jemaat GKI, warna itu juga yang mendorong adanya kebaktian tersendiri dengan menggunakan bahasa-bahasa Tionghoa. Itu terjadi sejak jemaat-jemaat awal GKI berdiri, terutama di perkotaan.

Misalnya saja, jemaat berdialek Hokkian di Kebonjati Bandung, kemudian merintis kebaktian tersendiri, demikian juga kemudian jemaat yang berdialek Hok Cia (sekarang GKI Anugerah). Di Jakarta, jemaat Patekoan yang berdialek Hokkian juga membangun persekutuan sendiri (sekarang GKI Gloria Pinangsia dan GKI Kanaan Jembatan Dua). Atau dibentuknya komisi bahasa Tionghoa di jemaat Cirebon pada 1958 (cikal-bakal GKI Rahmani).

Ini pula yang mendorong dibentuknya Klasis Priangan di GKI Sinode Wilayah Jawa Barat (klasis keempat setelah Klasis Bandung, Jakarta dan Cirebon) pada 13 Agustus 1970. Dimana jemaat-jemaat yang terhisap dalam klasis ini bukanlah berdasarkan wilayah, melainkan berdasarkan budaya dan bahasa jemaat. Klasis Priangan identik dengan klasis berbahasa Tionghoa, terutama kini Bahasa Mandarin.

Lebih jauh, dengan semangat ekumenis, melalui Klasis Priangan, GKI juga tetap menjalin kersajama dengan gereja-gereja lain yang berlatar belakang Tionghoa, baik yang ada di dalam negeri maupun yang ada di luar negeri. Sehingga jejaring GKI menjadi sedemikian luas dan berkembang.

Namun, semangat itu tentunya bukan milik masa lalu saja. Tantangan terbesar kini dimiliki oleh gereja-gereja berlatar Tionghoa di berbagai tempat. Dalam diskusi Leader’s Table Talk yang digelar GKI Anugerah minggu lalu misalnya, sorotan akan berkurangnya penguasaan bahasa Mandarin di generasi muda kembali diunggah.

Harus diakui, di kebanyakan gereja berlatar Tionghoa di Indonesia saat ini tradasi Tionghoa itu identik dengan orang tua. Saat ada kebaktian dwi bahasa Mandarin dan Indonesia, misalnya, kebanyakan yang hadir warga yang lebih tua,” ungkap Pdt. Cenglyson Tjajadi dari GKI Anugerah.

Padahal penguasaan bahasa Mandarin kan sekarang sudah menjadi hal yang cukup penting belakangan ini. Sudah sepatutnya gereja-gereja berlatar Tionghoa menangkap peluang ini, juga buat pelayanan generasi mudanya,” tambahnya.

Keluasan, kemandirian dan keterbukaan sembari tetap mengaktualisasikan identitas di tengah sejumlah peluang dan tantangan itu nampaknya kini menjadi pergumulan serius, bagi gereja-gereja berlatar Tionghoa. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.