Rasanya kalau kita bertanya kepada banyak orang, apakah mereka tahu kisah Romeo dan Julia, saya yakin, kebanyakan akan menyatakan tahu daripada tidak tahu. Kenapa? Karena sekalipun sudah ditulis oleh Shakespeare di kitaran tahun 1591-1597, kisah ini banyak dipentaskan di atas panggung teater bahkan dikemas dalam bentuk film yang terus diadaptasi sampai saat ini.

Romeo dan Julia merupakan roman tragik karena cinta mereka terhalang permusuhan kedua belah pihak keluarga. Keluarga Capulet (keluarga Julia) dan Mantaque (keluarga Romeo) dikisahkan kerap bertempur, sampai membuat penguasa Verona saat itu harus turun tangan melerai. Kebencian yang kuat antara kedua keluarga ini telah mendorong banyak orang, termasuk Pater Lawrence yang menjadi pemuka agama saat itu juga begitu ingin kedua keluarga ini melakukan rekonsiliasi. Oleh karena itulah ketika Romeo dan Julia datang padanya menyatakan keinginan menikah, langsung ia menyambutnya.

Akan tetapi, kebencian bak mata rantai yang kuat dan sulit diputuskan. Sekalipun Romeo dan Julia sangat mencintai satu dengan yang lain, tidaklah mudah bagi mereka untuk memutus rantai perseteruan dan menjadikan cinta kasih mereka menjadi alat merajut tali persaudaran bagi keluarga Capulet dan Mantaque. Hal itu pula yang menghantarkan dua kekasih ini merasa terpojok tanpa jalan keluar, hingga kematianpun menjadi jalan yang dipilihnya.

Tragis, itu yang kita rasakan saat melihat harapan kedua orang muda untuk membangun masa depan lebih baik hancur karena hati yang mengeras dikuasai kebencian. Namun, rasanya perasaan yang sama juga kita akan rasakan saat melihat realita kehidupan ini. Dimana banyak harapan untuk masa depan yang lebih baik hancur karena kebencian yang nyata sulit untuk dipatahkan hingga menyesakkan jiwa.

Lantas, apakah karena itu kita kemudian boleh berputus asa seperti Romeo dan Julia? Jawabnya: “Tidak!” Mengapa? “Karena masa depan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Kita tidak boleh tak berpengharapan!

Yesaya 2 : 1-5 menyampaikan nubuatan tentang hari-hari yang terakhir dimana Tuhan akan turun tangan hadir sebagai wasit bagi banyak suku bangsa, sehingga mereka akan menempa pedang-pedangnya untuk jadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas.

Sungguh akan terjadi perdamaian abadi karena mereka tidak lagi mengangkat pedang dan berhenti belajar berperang. Sungguh sebuah gambaran yang luar biasa indah telah dilukiskan Allah lewat nabi Yesaya memberikan pengharapan bagi setiap kita bahwa ada hari depan damai yang akan kita songsong bersama.

Oleh karena itu sebagai orang percaya, kita diajak untuk tidak berputus asa dalam memperjuangkan memutus rantai kebencian dan merajut tali persaudaraan. Bahkan, dalam Matius 5 : 9 dikatakan “Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Jelas bagi kita bahwa memang memutus rantai kebencian bukan hal yang mudah. Bahkan menuntut pengorbanan karena kita mungkin disalah-mengertikan dan menjadi pelampiasan kemarahan; akan tetapi kita percaya bahwa perdamaian itu pasti akan terwujud, sehingga setiap usaha untuk merajutnya menjadi berguna.

Sumber: Tim Warta GKI Gunung Sahari

Ilustrasi: woodam

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.