Saudara-saudara seluruh anggota jemaat dan simpatisan Gereja Kristen Indonesia (GKI) di mana pun berada.

Tepat pada tanggal 26 Agustus 2019 ini kita semua sebagai Gereja Kristen Indonesia (GKI) memasuki usia yang ke-31. Tiga puluh satu tahun sudah kita menyatakan diri bersedia berjalan bersama-sama (sebagai sinode) di tengah berbagai kesempatan maupun tantangan bangsa Indonesia dan dunia demi menghadirkan misi Allah. Tentu ini adalah waktu untuk kita semua bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus, Kepala Gereja, atas penyertaan-Nya dalam perjalanan pelayanan GKI selama 31 tahun penyatuan.

Tiga puluh satu tahun memang bukan waktu yang terlalu lama, tetapi juga bukan berarti kita semua tidak melewati berbagai pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang menegangkan. Apalagi kita sebagai GKI memutuskan berjalan bersama sebagai satu Sinode GKI yang meneruskan dan menyatukan perjalanan tiga sinode, yaitu GKI Jawa Barat, GKI Jawa Tengah, dan GKI Jawa Timur, yang sudah jauh lebih panjang. Mari kita bersyukur kepada Allah.

Di tengah rasa syukur ini, maka kami juga ingin mengajak kita sejenak melihat kembali diri kita sebagai gereja. GKI adalah sebuah sinode gereja dengan 226 jemaat, 44 bakal jemaat, 58 pos jemaat dan hampir 250 ribu anggota jemaat serta ribuan simpatisan, yang tersebar di berbagai tempat. Tetapi pertanyaan mendasar yang selalu perlu kita jawab adalah apa dan mau apa gereja itu?

Kita memahami bahwa gereja adalah persekutuan orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus, mereka yang beragama Kristen. Tetapi kita perlu menyadari bahwa gereja tidak sama dengan sekadar institusi agama Kristen, apalagi sekadar denominasi atau nama sinode/nama gereja. Ketika gereja diidentikkan begitu saja dengan institusi agama, di situlah awal gereja dapat lupa bahwa dirinya adalah persekutuan orang-orang beriman yang hidup dan dinamis.

Inilah tantangan lama yang masih tetap relevan, yaitu jebakan gereja untuk sekadar menjadi institusi. Lebih bermasalah lagi ketika gereja menghidupi tradisionalisme dimana gereja sekadar menjadi institusi penjaga ajaran, tradisi, dan aturan-aturan secara kaku. Lawan atas keadaan ini adalah, kesadaran gereja sebagai persekutuan orang-orang beriman, yang bukan berkumpul sekadar untuk menjadi penjaga ajaran, tradisi, dan aturan, tetapi untuk mencari dan membangun nilai, makna dan tujuan hidup yang utama.

Dalam Yohanes 5 : 17 Yesus menegaskan : “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Yesus menanggapi keberatan orang-orang Yahudi yang menuduh Ia tidak menghormati ajaran, aturan, dan tradisi hari Sabat, setelah di hari Sabat itulah Ia menyembuhkan seorang yang sudah 38 tahun menderita sakit. Tradisi tak menghalangi-Nya bekerja dan berkarya menyebarkan cinta kasih Allah.

Ini bukan berarti Yesus tidak suka dengan ajaran, aturan, dan tradisi, melainkan Ia mau ajaran, aturan, dan tradisi itu dihidupi dengan cinta kasih Allah. Dalam hal ini kita sebagai pengikut Kristus memahami bahwa gereja adalah persekutuan orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus dengan gerakan religiositas dan spiritualitas didalamnya. Sebagai gerakan religiositas serta spiritualitas maka gereja justru akan selalu bersedia menjadi cair untuk mengevaluasi ajaran, tradisi serta aturan-aturan gereja yang sudah ada demi cinta kasih Allah dalam dunia yang terus berubah.

Bagaimana dengan GKI setelah 31 tahun penyatuan ini? Apakah GKI sudah menjadi sebuah gerakan religiositas dan spiritualitas yang kuat sekaligus cair? Atau GKI justru bergerak ke arah institusional yang semakin kaku? Apakah GKI semakin berani untuk menantang kembali ajaran, tradisi, dan aturan yang mungkin kurang atau bahkan tidak mencerminkan cinta kasih Allah? Atau GKI justru sibuk menghidupi tradisionalisme yang semata-mata hanya mempertahankan apa yang sudah ada dan melawan semua perubahan?

Tantangan ajaran gereja, seperti misalnya, bagaimana sakramen perjamuan kudus yang diharapkan dapat dipahami kembali secara lebih dinamis; tantangan bentuk relasi dalam komunitas dan kepemimpinan gerejawi yang tidak tradisional serta menghindari struktur yang terlalu hirarkis-sentralistis; paradigma sikap iman yang tidak konsumtif untuk kepentingan diri sendiri, melainkan kreatif, sehingga mampu melihat kepentingan kemanusiaan dan kehidupan dunia secara luas; sampai juga tantangan kemajuan teknologi yang seharusnya mengarah pada peningkatan kualitas hidup kemanusiaan dan bukan sebaliknya.

Berdasarkan apa yang sudah kita lihat bersama tersebut, maka kami mengajak seluruh Anggota Jemaat dan simpatisan, Majelis Jemaat, Majelis Klasis, Majelis Sinode Wilayah, dan Majelis Sinode di mana di dalamnya ada rekan-rekan pendeta dan penatua GKI, untuk mengucap syukur melalui kesediaan terus berdoa dan bekerja secara sungguh-sungguh agar GKI dapat menjadi gereja yang dengan semangat dan kegembiraan Ilahi memperjuangkan nilai, makna dan tujuan hidup yang didasari oleh cinta kasih Allah di tengah perubahan dahsyat dan tantangan kehidupan dunia masa kini.

Selamat ulang tahun yang ke-31 Gereja Kristen Indonesia (GKI). Tuhan Allah memberkati dan menjaga kita semua.

BPMS GKI
Pdt. Handi Hadiwitanto (Ketua Umum)
Pdt. Danny Purnama (Sekretaris Umum)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.