Yesus pernah berbicara di Injil Lukas terkait kemelekatan: “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”(Lukas 14:26)

Ayat tersebut terdengar begitu keras dan sulit untuk dilakukan, betul? Dalam budaya Timur – semisal di adat Tionghoa – yang sangat menekankan masalah bakti seorang anak kepada orangtua bagaiman hal seperti jadi itu baik untuk dilakukan? Yang akan terjadi malahan retaknya hubungan keluarga. Keluarga kita akan sulit untuk menerima Berita Injil karena kita diajarkan untuk membenci orangtua/keluarganya saat menjadi Kristen.

Apakah betul seperti itu? Teks himne “I’d rather have Jesus” bisa membantu kita untuk memahami kata “membenci” (Yunani: misei) yang dipakai dalam ayat Injil Lukas tersebut. Teks itu beberapa kali mengkontraskan dua hal: Yesus versus perak/emas, dimiliki-Nya versus memiliki harta dan Yesus versus rumah/tanah.

Apakah saat kita lebih suka memiliki/dimiliki Yesus maka kita jadi membenci perak, emas, harta, rumah atau tanah? Tidak, bukan? Menjadi Kristen tidaklah membuat kita jadi membenci atau membuang segala harta, pekerjaan, atau kesempatan yang ada. Tidak ada yang salah dengan memiliki kekayaan saat kita menjadi Kristen, sehingga harus kita benci atau buang. Namun, jika dibandingkan dengan Yesus, maka kekayaan itu menjadi bukan hal yang utama.

Kata misei memang bisa berarti: kurang mengasihi (to love less) atau menolak: kita diajak untuk kurang mengasihi kekayaan, atau menolak kekayaan sebagai si nomor 1, karena nomor 1 adalah Yesus! Bahasa singkatnya: mengutamakan Yesus. Sampai disini semoga kita menjadi jelas bahwa kata “membenci” dalam Lukas 14:26 itu sama sekali bukan menyuruh kita untuk menjadi anak yang tidak berbakti pada orangtua atau menjadi mahluk anti keluarga. Disini kita berbicara mengenai “pengutamaan”.

Pertanyaan selanjutnya adalah saat kita harus memilih untuk mengambil satu keputusan, sungguhkah kita akan mengutamakan Yesus? Ini tentulah perkara yang sulit. Lebih mudah kita berbicara atau menjelaskan masalah misei tadi ketimbang kita memberlakukan pengutamaan Yesus.

Berita Injil bukanlah berita yang mendukakan, atau yang membuat kita mengalami tekanan batin karena kita tidak sanggup melakukannya. Berita Injil bukanlah seperti sebuah pilihan berkat-kutuk atau kehidupan-kematian. Berita Injil adalah berita sukacita.

Ini bukanlah upaya men-downgrade dosa. Dosa tetaplah dosa. Banyak manusia yang berusaha mendefinisikan ulang “apa itu dosa”, dengan argumentasi bahwa yang seperti ini dan seperti itu bukanlah dosa. Kebenarannya adalah: segala apa yang melawan perintah Tuhan adalah dosa, namun kita pun menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa.

Disinilah Berita Injil menjadi seperti cahaya dalam gelap, bahwa segelap apapun dosa, maka secercah cahaya itu sanggup untuk menerangkannya. Mari mengusahakan untuk terus mengutamakan Yesus, sekalipun kemelekatan kita pada dosa membuat kita sering gagal. Jangan malah membuat sejumlah alasan, tapi teruslah mengerjakan apa yang benar di mata Tuhan.

Kita mengamini bahwa kesempurnaan akan terjadi di ‘seberang sana’ yaitu bagi kita yang dimampukan untuk setia sampai akhir.

Sumber: Tim Warta GKI Nurdin

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.