Q: Seperti apa proses yang harus ditempuh seorang kader GKI setelah lulus dari Sekolah Theologia?

A : Setelah lulus dari sekolah theologia, maka ia akan menjalani Pendidikan Persiapan Kependetaan (PPK) yang diadakan oleh GKI. Dalam PPK ia akan menjalani beberapa bentuk pembinaan.

Pertama, adalah Bina Kader (BK), yaitu sebuah bentuk pelatihan yang bertujuan membantu setiap kader mengenali kepribadian, karakter, kekuatan/kelemahan dan juga luka-luka batin dari dirinya sendiri. Metodenya adalah lewat berbagai perjalanan dan perjumpaan dalam kondisi/lingkungan yang “memaksa” seorang kader keluar dari zona nyamannya. Dalam BK yang berlangsung sekitar 2 minggu ini juga diharapkan terjadi interaksi, relasi dan akhirnya relasi antar kader GKI yang berasal dari berbagai sekolah theologia, sebagai bekal kelak mereka akan menjadi kolega (rekan sepelayanan).

Kedua, adalah Bina Belajar (BB), yaitu pembinaan mengenai kehidupan bergereja khas GKI yang tidak didapatkan selama menempuh bangku kuliah, juga berlangsung sekitar 2 minggu. Tata Gereja GKI, organisasi GKI, kepemimpinan, memimpin rapat, membuat perencanaan strategis, dst.

Ketiga, adalah pelatihan langsung dengan magang di Jemaat-Jemaat GKI dalam bentuk Praktek Jemaat (PJ), yang biasanya berlangsung dalam dua kesempatan; PJ1 di Jemaat “besar” atau di kota besar, PJ2 di Jemaat “kecil” atau di kota kecil. Baik PJ1 maupun PJ2 berlangsung sekitar 4-5 bulan.

 

Q : Wah, jadi hampir 1 tahun ya lamanya PPK itu. Nah, setelah itu langsung jadi pendeta dong …

A : Oh ya tidak. Setelah menyelesaikan PPK, Rapat Kerja (RaKer) BPMS GKI dengan BPMSW-BPMSW, memutuskan penempatan kader-kader itu sesuai kebutuhan Jemaat-Jemaat. Berdasarkan keputusan itu, mereka masuk dalam Tahap Perkenalan (TP) di Jemaat yang sudah ditentukan dalam Raker. TP tersebut berlangsung selama 6 bulan.

Jika dalam evaluasi TP ternyata diputuskan untuk tidak dilanjutkan, maka yang bersangkutan masih dapat ditempatkan di 2 jemaat yang berbeda. Apabila proses dan evaluasi TP berlangsung baik, maka kader diteguhkan sebagai Penatua di Jemaat tersebut dan kemudian menjalani Tahap Orientasi (TO) yang berlangsung minimal 1 tahun.

Apabila dalam proses TO dinyatakan tidak dilanjutkan, maka kader yang bersangkutan masih memiliki 1 (satu) kali lagi penempatan di jemaat yang lain. Setelah TO selesai, maka Majelis Jemaat mengadakan evaluasi dan mengambil keputusan apakah akan melanjutkan proses kependetaan kader ke tahap selanjutnya. Apabila keputusannya dilanjutkan maka kader akan menjalani persiapan untuk mengikuti Percakapan Gerejawi, yang akan menguji dirinya dalam dua segi, Pengajaran dan Tata Gereja.

Percakapan Gerejawi tersebut diadakan dalam Persidangan Majelis Klasis (PMK), diikuti oleh perutusan-perutusan dari Jemaat-Jemaat lain dalam lingkup klasis-nya, pelawat dari BPMSW dimana jemaat tersebut berada dan BPMS GKI. Apabila dalam Persidangan tersebut dinyatakan bahwa kader layak untuk dilanjutkan ke tahap selanjutnya, maka dalam jangka waktu maksimal 6 bulan setelahnya, kader akan ditahbiskan sebagai pendeta GKI dalam basis pelayanan Jemaat tempat ia melayani.

 

Q : Wuih … lama juga ya … kalau ditotal seluruh proses PPK sampai penahbisan bisa memakan waktu minimal 3 tahun. Kalau ditotal dengan studi theologia-nya yang 4 tahun, totalnya jadi 7 tahun … itupun kalau lancar ya … kok lama banget sih, orang mau melayani saja dipersulit?

A : Tentu bukan dipersulit. Proses panjang tersebut dihayati sebagai bagian dari mencari kehendak Tuhan, baik dalam diri si kader, Jemaat maupun GKI secara keseluruhan. Lewat proses tersebut juga diharapkan bahwa seorang kader pendeta sungguh-sungguh disiapkan, bukan hanya dari sisi akademis namun terutama panggilan pelayanannya.

 

Q : Apa yang harus dilakukan di Jemaat-Jemaat untuk menyiapkan para kader calon pendeta GKI?

A : Tugas Jemaat (baik MJ, aktivis maupun seluruh anggota Jemaat) adalah membangun lingkungan yang membuat para remaja, bahkan anak-anak mengenal Tuhan dan anugerah-Nya, mengenal dan mencintai pelayanan baik lewat Gereja maupun kepada sesama.

Artinya membuka kesempatan seluas-luasnya kepada para remaja dan anak untuk mengekspresikan imannya, melayani, bahkan kalaupun pelayanan mereka masih terbatas, dan tentunya ada kelemahan dan ketidak sempurnaannya. Tapi pelayanan siapa sih yang tidak ada kelemahan dan ketidaksempurnaannya?

Dengan terlibat dalam kehidupan bergereja sejak dini, maka kita semua sedang memupuk jiwa pelayanan dalam diri anak-anak dan remaja-remaja Gereja, hingga kelak mereka mau melayani Tuhan dan sesama dengan hati yang tulus dan penuh rasa syukur, termasuk menjadi para pendeta dan pelayan-pelayan lainnya.

Penulis: Pdt. Sthira Budhi P (Koordinator Divisi Rekrutmen KKSW GKI SW Jawa Barat)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.