Sekelompok burung gereja menempati celah-celah dinding belakang gereja, di bawah rimbunnya pohon cemara yang memberikan keteduhan. Mereka datang dan pergi ke tempat tersebut, yang sudah menjadi rumahnya. Hingga sekali waktu, saat seluruh dinding gereja itu dibersihkan dan dicat ulang maka mereka harus mencari tempat tinggal baru – dan mereka memilih untuk bergabung dengan teman-teman mereka yang tinggal di bawah atap sebuah pura.

Di sana sudah ada kelompok lain dari keluarga burung gereja yang  menerima “saudara- saudaranya” itu dengan penuh kegembiraan, dan  mereka tinggal bersama tanpa keributan. Lalu ketika pura itu dipugar, maka merekapun kemudian pindah ke bawah kubah mesjid, dan kehadiran merekapun disambut baik oleh burung-burung gereja yang lebih dahulu  tinggal di sana.

Ketika kubah mesjid itu dibersihkan dan dicat ulang maka merekapun pindah ke bawah atap sebuah klenteng, dan kehadiran merekapun disambut baik oleh burung gereja yang lebih dahulu tinggal di sana. Begitu selalu yang mereka lakukan. Dan semuanya tampak baik-baik saja: tidak ada pertengkaran dan tidak ada keributan – mereka semua merasa sebagai saudara.

Sampai sekali peristiwa ketika mereka berkumpul di bawah kerindangan sebuah pohon, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh keramaian yang berasal dari banyak orang berlarian dan saling menyerang satu sama lain. Seekor burung gereja muda bertanya kepada yang tua, “Apa yang terjadi di antara mereka? Kenapa mereka saling menyerang dan melukai satu sama lain?” Burung gereja yang lebih tua itupun menjawab, “Mereka saling menyakiti karena sebagian dari mereka beragama Muslim, sebagian lagi Kristen, sebagian lagi Budha, Hindu dan penganut kepercayaan!  Mereka selalu membawa identitas itu dalam diri mereka dan mengenakannya kepada orang lain!  Mereka adalah orang-orang yang mengaku sebagai orang-orang beragama!”

Dengan rasa tidak mengerti burung gereja muda itu berkata, “Untunglah di antara kita tidak ada satupun yang beragama!” Kenapa agama menjadi sesuatu yang memisahkan, kenapa agama membuat kita sulit untuk hidup bersama, kenapa agama cenderung membuat jarak dan sekat? Untunglah burung gereja tidak memiliki agama sehingga mereka dapat tinggal di mana saja.

Untunglah burung gereja tidak bergereja, sehingga sekalipun namanya burung gereja namun mereka dapat menikmati nyamannya keteduhan kubah mesjid, nyamannya bawah atap sebuah pura dan klenteng atau di manapun singgah.

Dalam sejarah tradisi-tradisi agama, dari perang-perang biblikal hingga perang salib dan kemartiran yang tampak luar biasa dalam Kekristenan atau konsep jihad dalam Islam, kekerasan senantiasa tampil dalam wajah yang samar-samar.

Namun semua itu membuat wajah agama menjadi semakin gelap: agama bahkan tampak sebagai motivasi dan pembenaran terhadap tindakan saling menghancurkan tersebut. Pertanyaan yang kerap muncul adalah, “Kenapa harus ada kekerasan atas nama agama? Kenapa agama seolah ‘membutuhkan’ kekerasan dan kekerasan agama? Kenapa ‘mandat’ Tuhan untuk tidak melakukan perusakan diterima dengan keyakinan yang sedemikian rupa oleh sebagian orang yang mengaku diri beragama dan bahkan beriman?”

Yang kerapkali membingungkan banyak orang khususnya saya adalah: jika terjadi sesuatu yang buruk yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak baik – maka kita mungkin dapat memahaminya. Namun jika sesuatu yang buruk itu dilakukan oleh orang-orang baik, mereka yang mengaku mengabdikan diri kepada Tuhan dan mendedikasikan dirinya untuk lembaga keagamaan maka pastilah menjadi sesuatu yang sulit untuk dapat dipahami.

Seorang teolog Amerika bernama Reinhold Neibuhr, mencurigai hal itu sebagai buah dari campur aduknya agama dan politik – ini yang harusnya kita sebagai pemeluk agama sadari betul. Biarlah agama tumbuh menjadi sebuah pohon kehidupan yang di dalamnya dan melaluinya semua insan dapat berteduh dengan damai.

Muliakanlah Tuhan dengan agama yang kita yakini, dan muliakanlah diri kita dalam kesungguhan untuk menghadirkan diri menjadi berkat dalam kehidupan yang kita jalani.

Penulis: Pdt. Manuel Kristo (Khotbah Tanpa Mimbar)
Sumber Foto: Pixabay

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.