Minggu ini boleh disebut sebagai minggu toleransi bagi GKI Kebonjati Bandung. Bagaimana tidak, gereja yang merupakan salah satu jemaat GKI tertua di Bandung ini terlibat dalam tiga kegiatan kolaboratif untuk menguatkan semangat toleransi di tengah masyarakat sekitarnya.

Momen pertama adalah deklarasi Kecamatan Andir, Bandung – khususnya kelurahan Kebonjeruk – sebagai kampung toleransi kelima di kota kembang ini. Deklarasi tersebut berlangsung pada Selasa (12/11) di Jl. Vihara, Kebonjeruk, Bandung. GKI Kebonjati sebagai salah satu rumah ibadah yang ada di kelurahan ini, dilibatkan dalam kepanitiaan bersama Vihara Tanda Bhakti, Gereja Betel Tabernakel Andir, DKM Masjid Ar Rohmat, Ashram Sava Dharma Bandung, serta sejumlah rumah ibadah lain.

Deklarasi kampung toleransi itu dihadiri wakil walikota Bandung, Yana Mulyana serta sejumlah elemen pimpinan kota dan tokoh masyarakat Bandung. Kecamatan Andir sendiri memang merupakan wilayah yang terbilang paling plural di kota Bandung, sehingga toleransi telah menjadi semangat yang kental tumbuh di masyarakat, jauh sebelum deklarasi ini.

Sementara itu, momen kedua adalah saat gereja ini menjadi salah satu tempat ibadah yang dikunjungi dalam event eksplorasi Jelajah Jalur Bhinneka yang digelar oleh Bandung Lautan Damai (BALAD) bersama sejumlah siswa sekolah dasar di Bandung. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (15/11).

Kegiatan yang juga tak kalah penting adalah saat GKI Kebonjati menjadi tuan rumah dilangsungkannya Live Event BALAD 2019 pada Sabtu (16/11). Bertepatan dengan peringatan Hari Toleransi Internasional, kaum muda pegiat keberagaman di Bandung urun rembuk soal strategi bersama dalam menguatkan isu toleransi, keberagaman serta secara umum kolaborasi gerakan kemanusiaan di kota ini. Momen ini dihadir 50-an kaum muda dari dua puluh komunitas pegiat keberagaman di Bandung.

Tidak sekedar menyediakan tempat, para pendeta dan penatua di jemaat ini juga terlibat dalam diskusi, serta mengusulkan sejumlah program yang mungkin dikelola bersama dalam mengembangkan pendidikan serta semangat toleransi di tengah masyarakat.

Kegiatan seperti ini memang menjadi wadah belajar bagi para pengerja GKI Kebonjati, sekaligus juga menjadi sarana untuk menjadi berkat dengan saling berbagi. Umumnya pengerja senang karena bisa memberikan ide yang mungkin dikerjakan bersama.

Menyadari bahwa toleransi juga harus lebih menyentuh hal keseharian tidak hanya kegiatan simbolik. Ide-ide yang diusung soal pendidikan, kesehatan, serta pendampingan terhadap kelompok yang selama ini terabaikan, sangat menantang untuk dikerjakan bersama,” ungkap Pdt. Daud Solichin menyimpulkan ide yang tertampung serta pembelajarannya. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.