Jika kita melihat nama-nama orang Kristen, banyak yang bernama Paulus, Petrus, Lukas, Markus, dan sebagainya. Namun kita jarang (atau mungkin tidak ada sama sekali) menjumpai seorang Kristen yang bernama Yudas. Padahal arti dari nama Yudas adalah “Terpujilah Allah.” Arti nama Yudas sangat baik karena itu harus menjadi sikap kita dalam kehidupan sehari-hari, yaitu memuji Allah.

Akan tetapi, nama Yudas sudah menjadi buruk karena sikap yang dilakukan Yudas Iskariot terhadap Yesus. Padahal kalau kita melihat Petrus dan Paulus juga melakukan hal yang tidak baik kepada Yesus. Misalkan Petrus yang menyangkal Yesus, atau Paulus yang membenci para pengikut Kristus. Namun ada perbedaan dari nama-nama tersebut, yakni setelah melakukan kesalahan, Petrus dan Paulus melakukan sebuah pembaruan hidup. Berbeda dengan Yudas, yang setelah menjual Yesus tidak melakukan pembaruan hidup melainkan memilih mengakhiri hidupnya.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pertobatan berasal dari kata tobat yang berarti sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan. Di dalam Perjanjian Lama, kata Ibrani syuv yang dipakai untuk bertobat, memiliki makna berputar atau berbalik kembali. Ini mengacu kepada tindakan berbalik dari dosa kepada Allah.

Kata ini dapat kita temukan misalnya di dalam Yeremia 3:14 yang diterjemahkan menjadi ‘kembalilah’, dalam Mazmur 78:34 ‘berbalik’, dalam Yeremia 18:8 ‘bertobat’. Pertobatan di dalam Perjanjian Lama bukan berarti berubah agama tapi meneguhkan kembali kepercayaan dan ketaatan pribadi kepada Allah.

Di dalam Perjanjian Baru kata tobat berasal dari kata Yunani metanoia dan metanoeo. Kata ini muncul dalam Perjanjian Baru kira-kira 58 kali. Dalam Alkitab LAI-Terjemahan Baru kata ini selalu diterjemahkan ‘bertobat’, kecuali di dalam Lukas 17:3 (menyesal) dan Ibrani 12:17 (memperbaiki kesalahan). Arti dari kata ini ialah perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang sama sekali berubah, putar balik dari dosa kepada Allah dan pengabdian kepada-Nya.

Selain itu dalam Perjanjian Baru kata tobat juga berasal dari kata epistrefo. Kata ini muncul lebih kurang 30 kali. Secara harfiah kata ini diterjemahkan ‘kembali’ atau ‘berpaling’ (Mat. 10:13; 24:18; Kis. 16:18; Why. 1:12). Satu kali diterjemahkan ‘insaf’ berkaitan dengan pemulihan Petrus sesudah kejatuhannya ke dalam dosa (Luk. 22:32).

Memang pertobatan ditilik dari nalar ilmu jiwa adalah tindakan manusia sendiri. Tapi nalar Alkitab menjelaskan bahwa dalam arti asasi dan yang sesungguhnya, Allah turut berperan dalam pertobatan. Ratapan 5:21 menyatakan bahwa orang berdosa bertobat kepada Allah jika Allah membawa orang itu kepada pertobatan. Di dalam Perjanjian Baru dinyatakan pula bahwa jika seseorang berkemauan dan bekerja sesuai kehendak Allah berkaitan dengan keselamatannya, maka Allah sendirilah yang bekerja dalam diri orang itu, yang memampukan dan memotivasi dia melakukan itu (Flp. 2:12).

Pertobatan adalah karya Ilahi di mana Allah menyembuhkan ketidakmampuan rohani manusia dan membangkitkannya dari kematian. Allah membuka hatinya. Allah membuka dan mencelikkan matanya yang buta. Allah memberinya pengertian.

Melalui perenungan Masa Adven ini marilah kita melihat Firman Allah bukan untuk mencari kesenangan dalam hati kita saja, melainkan melalui Firman Tuhan kita dapat mengevaluasi, mengoreksi, dan membarui karakter kita. Di dalam menantikan kedatangan Kristus, kita harus terus melakukan sebuah perubahan hidup untuk tetap hidup berkenan dan memuliakan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Pdt. David Roestandi

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.