Injil Lukas mengisahkan kelahiran Sang Mesias bukan di tempat yang selayaknya, apalagi di istana kerajaan. Bukan! Sang Mesias lahir di tengah-tengah rakyat jelata yang sedang mengantri di tengah-tengah sebuah pencacahan jiwa yang dilakukan oleh Kaisar Agustus. Tak pelak lagi, Yesus merupakan bagian dari kejelataan yang marjinal itu. Kelahirannya akrab dengan suara ternak dan gembala serta kaum papa.

Kelahiran Kristus berada dalam sejarah kelam. Umat Allah sedang berada dalam cengkeraman kekuasaan Kaisar Agustus. Agustus sebenarnya bernama Octavianus, nama lengkapnya Gaius Julius Caesar Octavianus. Dia dipandang sebagai kaisar terbesar sepanjang sejarah kekaisaran Romawi. Agustus dimuliakan bagaikan dewa, dia dianggap sebagai juruselamat dunia yang mendatangkan zaman keemasan untuk dunia.

Tentu saja, penulis Injil Lukas dengan sadar menempatkan keduanya berhadapan: Agustus dan Yesus. Seakan-akan Lukas berkisah; pada zaman pemerintahan Kaisar Agustus yang dipuja oleh dunia sebagai orang yang sangat mulia, bagaikan dewa dan penyelamat, lahirlah Juruselamat yang sesungguhnya, yakni: Yesus Kristus!

Untuk meneguhkan kemuliaan yang sesungguhnya itu, Allah, melalui malaikat-Nya menyiapkan para saksi. Bukan dari kalangan orang-orang mulia, bukan bangsawan atau kaum intelektual yang terpandang. Mereka para marjinal. Gembala! Para gembala adalah kaum marjinal secara ekonomi dan martabat. Koq bisa?

Ya, Allah ingin memakai mereka untuk menyatakan kemuliaan Sang Mesias bukan melulu melalui kekuasaan dan kehormatan yang dipuja dan dikejar manusia! Ternyata bagi Allah siapa pun dapat dipakai-Nya untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Bagi Allah semua manusia adalah mulia!

Tanpa menunggu waktu lama, dengan keyakinan penuh bahwa utusan Tuhan telah berbicara kepada para gembala, mereka cepat-cepat pergi untuk menyambut Sang Mesias itu. Para gembala itu pergi bukan untuk membuktikan kebenaran para malaikat, melainkan mereka pergi untuk menyambut dan menjadi saksi kelahiran Sang Mesias.

Terbukti ketika mereka tiba di tempat di mana Yesus dilahirkan, mereka menceritakan apa yang sudah didengar dari malaikat Tuhan. Peran gembala di sini sangat penting. Kelahiran Yesus Kristus diberi makna yang sesungguhnya oleh para gembala itu. Mereka memberi pernyataan yang mencengangkan banyak orang. Dan semua orang yang mendengarkannya heran!

Jika Yesus Kristus, Sang Juruselamat yang sesungguhnya hadir dalam kesederhanaan dan berpihak pada orang-orang miskin, menderita, terabaikan dan cenderung dianggap sampah. Mestinya, gereja yang mengaku sebagai penerus karya Kristus dapat menunjukkan kesederhanaan dan keberpihakan yang sama tanpa harus takut kehilangan kemuliaan.

Kemuliaan yang sesungguhnya bukanlah dengan mendirikan mercu suar atau proyek dan program pelayanan yang spektakuler. Melainkan dengan setia meneruskan kasih Tuhan. Gereja harus berani berdiri di barisan paling depan menentang ketidakadilan dan berpihak kepada mereka yang teraniaya.

Gereja adalah Anda dan saya. Kita semua dapat berkarya meneruskan cinta kasih Tuhan kepada dunia ini. Mulailah dari diri kita untuk menyatakan kasih, pengampunan dan damai sejahtera bagi semua orang. Mulailah dari hal-hal kecil yang sederhana yang bisa kita lakukan.

Senyum sapa dan berbagi apa pun yang baik merupakan cara kita untuk meneruskan cinta kasih Tuhan. Jangan berpikir nanti saja, mulailah dari sekarang. Sebab, bisa jadi esok atau lusa sudah terlambat.

Lakukanlah dengan sukacita, rela dan tanpa pamrih. Jangan takut kehilangan kemuliaan. Yesus Kristus memberi contoh dan teladan: kemuliaan tidak pernah akan hilang meski ditampilkan dalam kesederhanaan sekali pun!

Selamat menyongsong dan merayakan Natal. Rayakanlah dengan kesederhanaan namun penuh dengan cinta kasih! Tuhan memberkati!

Selamat merayakan Natal 2019.

Penulis: Pdt. Nanang

 

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.