Bagaimana caranya orangtua menolong untuk menumbuh-kembangkan kepekaan hati, atau empati dalam diri anak-anaknya? Dalam kajian psikologi disampaikan ada sejumlah cara yang dapat lakukan kepada anak.

Poin pertama adalah menghargai perasaan anak dan orang lain. Misalnya bila anak pulang sekolah dengan nilai ulangan buruk, baiklah orangtua menghargai perasaan sedihnya, dengan menghiburnya, jangan menambah perasaan sedihnya dengan memarahi dan mengguruinya. Bila melihat orang yang berkebutuhan khusus, semisal rekan-rekan dengan disabilitas, baiklah orangtua bersikap ramah kepadanya, bukan menjadikannya bahan tertawaan di hadapan anaknya.

Bila perlu jelaskan mengapa orangtua bersikap demikian. Seperti, “Dahulu Papa atau Mama juga pernah dapat ulangan yang buruk, malah lebih buruk dari kamu!”, atau “Di keluarga besar Papa atau Mama ternyata ada juga yang cacat, atau berkebutuhan khusus loh.”

Kedua, kita perlu memberikan pengalaman langsung untuk anak turut merasakan dan mengekspresikan terkait sekitarnya. Ajaklah anak bertemu, mendengarkan cerita, menonton film, atau main drama-dramaan. Setelahnya orangtua dapat membicarakan tokoh-tokohnya, bagaimana perasaan-perasaan mereka, dan bagaimana mereka mengungkapkan perasaannya lewat perkataan dan bahasa tubuhnya.

Lewat itu anak akan belajar berefleksi. Bagaimana bila ada seorang anak jadi guru dan seorang anak yang lain jadi anak yang dimarahi guru di sekolah? Bagaimana perasaannya sebagai guru dan sebagai anak yang dimarahi guru? Bagaimana jika ia atau rekannya merupakan anak dengan kebutuhan khusus. Bagaimana bila berteman dengan yang latar belakangnya berbeda?

Ketiga, ajak anak untuk belajar tentang ekspresi orang lain. Perlihatkanlah kepada anak, wajah Papa atau Mama yang berubah-ubah. Atau, perlihatkanlah kepada anak kartu-kartu atau gambar-gambar wajah orang yang berbeda-beda. Wajah sedih, cemberut, marah, mikir, bingung, senang, dan lainnya. Tujuannya anak belajar mengerti ekspresi orang lain. Lewat bahasa wajah dan bahasa tubuh orang di sekitarnya anak dapat lebih mengenali dan ikut merasakan perasaan mereka.

Keempat, beri anak kebebasan untuk membahasakan perasaannya. Orangtua perlu memberi pengalaman di mana anak merasa bebas untuk membahasakan segala apa yang hatinya rasakan. Dengan menerima segala perasaan yang dibahasakannya, anak bukan hanya dapat merasa dicinta, tapi juga dapat membedakan antara perasaan yang dibahasakan dan yang bersifat netral, dengan perasaan yang dinyatakan dalam tindakan dan yang tak bersifat netral lagi, atau bisa dinilai benar, atau salah secara moral.

Momen Natal, sekaligus juga momen akhir tahun dapat dijadikan kesempatan yang baik untuk mengamalkan hal tersebut. Anak-anak baiknya tidak hanya diberikan satu pengalaman Natal semasa kecilnya. Bertemu dengan rekan yang merayakan Natal dengan cara berbeda, atau berjumpa dengan rekan dari agama lain yang tidak merayakan Natal namun bisa bersama. Anak bisa belajar peka pada ekspresi orang lain dan mengekspresikan apa yang dirasakannya.

Disarikan dari: Menumbuhkembangkan Kepekaan Anak terhadap Orang Lain (GKI Gunung Sahari)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.