Mendengar kata Punk membuat kita teringat segerombol anak muda yang berkeliaran di perempatan-perempatan jalan, gang-gang, dan tempat-tempat lain yang dijadikan tongkrongan anak muda bergaya ala Punk. Segerombol anak muda bergaya ala Punk dengan menggunakan pakaian serba hitam, skinny jeans, jaket dengan berbagai tempelan, dan berambut mohawk. Tidak lupa dengan aroma alkohol yang tercium dari mulut-mulut mereka.

Keberadaan mereka berawal dari mengikuti inspirator mereka dalam bermusik kemudian menjadi sebuah gaya hidup anak muda zaman sekarang. Belakangan ini kata Punk juga mengingatkan kita pada keresahan publik akibat aksi kriminal yang dilakukan anak muda bergaya ala Punk.

Inilah gambaran anak muda yang sering kali hanya mengerti bahwa Punk adalah gaul, yang kemudian merusak citra Punk. Tujuan Punk sendiri adalah menuntut ketidakadilan. Punk mengajak siapa pun, dari kalangan apapun, dari ras atau agama apapun untuk bersatu, menghargai, dan memperjuangkan keadilan.

Kata punk muncul pertama kali di Inggris dari sebuah karya William Shakespeares yang berjudul, The Marriage of Lady Windsor. Muncul dan berkembangnya sebagai sub-kultur di era 80-an sebagai wujud protes dari kalangan anak muda kelas pekerja yang menyatakan protes terhadap kebijakan pemerintah dalam bidang politik dan ekonomi yang menyebabkan banyaknya pengangguran.

Kemudian berkembang juga di Amerika yang saat itu sedang mengalami masalah ekonomi yang diakibatkan kemerosotan moral para tokoh politiknya sehingga memicu meningkatnya tingkat pengangguran dan kriminalitas. Punk berusaha menyindir sistem korup pemerintah dan ketidakadilannya lewat lantunan lirik-lirik sosialis mereka dengan beat yang cepat dan menghentak. Dalam perkembangannya semangat Punk ini dilupakan, Punk dilihat hanya sebagai gaya berpakaiannya (fashion) dan tingkah laku saja.

Potongan rambut mohawk ala indian, warna rambut yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kelompok perusuh dan kriminal dari kelas rendah, dan pemabuk yang kemudian menjadi standar seseorang dikatakan sebagai anak Punk.

Punk sesungguhnya tidak harus menggelandang di jalan, mabuk-mabukan dan berbuat onar. Siapa pun dapat menjadi Punk ketika mengikrarkan dirinya peduli terhadap isu-isu sosial, memperjuangkan keadilan serta kebebasan yang saling menghargai. Semangat Punk juga mengajarkan kegigihan untuk memperjuangkan hidup dan perubahan sosial yang lebih baik tanpa ada kata menyerah.

Bahkan Yesus pun ketika hadir di dunia ini dapat bergumam “Aku adalah Punk sejati.” Yesus hadir sebagai wujud kepedulian Allah akan dunia yang porak-poranda. Yesus hadir mendobrak tembok-tembok ketidakadilan yang ada di dunia ini. Yesus hadir menghancurkan tatanan sosial yang memarginalkan manusia dari manusia lain. Yesus hadir untuk mewujudkan kasih dalam kehidupan manusia.

Tidak seperti Punk yang berjuang lewat lirik dan lagu yang menghentak, cepat dan kasar, Yesus berjuang lewat sajak-sajak-Nya yang lembut namun tegas menghunus hingga dasar jiwa. Perjuangan keadilan Yesus yang masif ini membawa Yesus ke dalam penolakan oleh sistem yang telah nyaman bertengger. Sistem kehidupan yang nyaman dalam kehancurannya merasa terusik ketika Kebenaran itu datang menghampiri. Ia datang meskipun ditolak. Ia gigih berjuang mewartakan kasih meskipun berbagai kalangan menganggapnya bualan semata.

Sama dengan kondisi semangat Punk, semangat dan ideologi kasih yang diajarkan oleh Yesus dewasa ini juga mengalami perubahan. Banyak yang mengaku pengikut Yesus, banyak yang mengaku percaya Yesus dan menjadikan-Nya sebagai Kristus dalam hidupnya tetapi lupa akan semangat dan ideologi yang diajarkan Yesus. Pengikut-Nya hanya mencentelkan simbol di leher dan di berbagai tempat sebagai wujud identitas visual. Mengenakan simbol visual namun tidak dalam spiritual.

Pada akhirnya yang terjadi adalah kepercayaan dan penyataan sebagai pengikut Yesus digunakan untuk melawan semangat yang Yesus sendiri ajarkan. Pengikut yang seharusnya memiliki semangat membebaskan dari belenggu ketidakadilan justru menjadi penindas dan pembelenggu bagi sesamanya. Pengikut yang mengaku menerima namun pada kenyataannya menolak, tidak jauh beda dengan keadaan penolakan yang ada 2000 tahun silam ketika Yesus secara fisik hadir menyapa dunia.

Yesus Sang Punk sejati tetap datang meskipun ditolak dan terus melawan ketidakadilan dengan kasih. Selamat menyatakan kemuliaan Allah dalam kehidupan kita. Selamat memaknai Natal di tengah gemerlap perayaan.

Penulis: Pnt. Yonatan Adi S (Anggota BPMK GKI Klasis Cirebon)

Ilustrasi: Burmapunk

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.