Dalam kebanyakan film bersetting Natal, kebahagiaan para tokohnya kerap dibuat terjadi pada hari Natal. Dalam hal ini, Natal dijadikan sebagai momen puncak kebahagiaan. Baik kebahagiaan di antara sahabat, atau di antara sepasang kekasih atau dalam sebuah keluarga.

Sekalipun menyenangkan saat menontonnya, membuat kita melambung dalam angan dan harapan, kita tahu betul betapa film-film demikian tetaplah film. Maksudnya, untuk setiap adegan sepasang kekasih saling menatap dengan penuh kasih sayang, atau sebuah keluarga sibuk membuka hadiah Natal sambil tertawa-tawa bahagia, ada seorang sutradara yang berseru nyaring, “Action!” dan “Cut!

Saat “Action!” terdengar, para pemeran berusaha melakukan bagiannya sebaik mungkin. Sang sutradara tak henti mengingatkan, “Senyummu kurang ceria!”, atau “Genggam tangannya lebih erat!”, atau “Dudukmu kurang merapat!” Dan seterusnya. Sedangkan, begitu “Cut!” diserukan, mudah dibayangkan, senyum yang ceria langsung menghilang, genggaman yang erat langsung merenggang, duduk yang rapat pun langsung menjauh. Segala keakraban dan kemesraan langsung lenyap.

Tentu saja, namanya juga film. Bukan kehidupan serta kebahagiaan yang sesungguhnya. Ada skenario yang mengatur dan sutradara yang mengarahkan. Tapi, syukurlah, Natal kita bukan film. Sekalipun ketika difilmkan berhasil memesona mata dan membuat hati terharu –dengan latar nyanyian merdu malaikat, dan kelakar gembala yang berjaga, juga keluarga “Yusuf”–“Maria”–“Bayi Yesus.”

Natal sejatinya adalah kisah kasih yang teramat-sangat nyata. Allah yang mengasihi manusia dan bersedia menjadi sama dengan manusia bukanlah tuntutan skenario. Pula, para gembala yang meninggalkan kandang “sambil memuji dan memuliakan Allah”(bdk. Lukas 2:20) tidak melakukannya karena arahan sutradara. Natal adalah kisah cinta yang sesungguhnya.

Itu sebabnya, jangan pasrahkan kebahagiaan Natal kita pada “skenario” atau “sutradara” yang menyemarakkan Natal. Karena “skenario” mungkin saja mencantumkan kebahagiaan Natal terletak pada berbagai Great Sale yang marak belakangan ini, sedangkan “sutradara” bisa jadi mengarahkan kebahagiaan Natal pada acara jalan-jalan sepanjang liburan akhir tahun.

Padahal, faktor yang menentukan kebahagiaan kita adalah hati yang bersyukur dan pikiran yang damai. Untuk memiliki kedua hal tersebut, kita bisa melatih hati dan pikiran untuk berfokus pada Allah di dalam Kristus yang sangat dahsyat mengasihi kita, sehingga bersedia menjadi sama dengan kita.

Penulis: Pdt. Timur Citra Sari (GKI Bekasi Timur)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.