Beberapa hari lalu, karena kepentingan pemeriksaan lebih lanjut, klinik tempat saya berobat merujuk saya ke rumah sakit di daerah dekat rumah. Setelah kembali ke rumah, mempersiapkan beberapa dokumen yang diperlukan, saya pun langsung berangkat menuju ke rumah sakit, lantas tiba di konter pendaftaran.

Astananaga, ruang antrian sudah penuh dengan pasien yang sedang menunggu giliran pendaftaran. Saya jadi sangsi, apakah masih bisa diterima untuk pendaftaran sore itu. Jam menunjukkan pukul 16.35 dan dokter yang saya tuju, mulai praktik pada jam 17.00. Dalam keraguan, saya memberanikan diri menuju ke konter pendaftaran.

Sus, apakah pendaftaran masih dibuka untuk praktek dokter penyakit pada sore ini,” tanya saya kepada suster yang melayani. “Masih bisa Pak,” Suster ini menjawab dengan ramah.

Setelah mengisi formulir pendaftaran dan menyerahkan dokumen yang diperlukan, saya sengaja berdiri di pojok dekat konter pendaftaran. Saya lihat tempat duduk sudah penuh.

Selama satu setengah jam antri, saya perlahan mengamati. Banyak pasien dan keluarga yang sudah lama menunggu. Tidak sedikit dari mereka yang kedengaran menggerutu dan mengomel, kelihatannya mereka sudah tidak sabar.

Ada yang sebentar-sebentar menuju ke konter pendaftaran, ”Sus, saya kok belum dipanggil?” Bahkan ada yang emosi dan marah, “Kalau demikian lama, mengapa tidak ngomong dari tadi? Kan saya bisa pindah ke rumah sakit yang lain.

Satu setengah jam, berulang-ulang saya melihat peristiwa seperti itu dan mendengarkan keluhan, omelan bahkan amarah yang tersembur keluar dari mereka yang sudah tidak sabar. Mereka seolah tidak menyadari bahwa hari itu pasien begitu banyak.

Namun, di antara semua ketidaksabaran yang saya saksikan, saya juga melihat pemandangan yang lain. Beberapa ibu yang duduk dengan tenang dan santai sambil menunggu giliran mereka. Tidak ada kata, tidak ada gerutuan. Saya juga menyaksikan sebagian lainnya yang mengobrol dengan orang-orang di sebelah tempat duduk mereka tanpa menghiraukan kapan mereka akan dipanggil.

Yang menarik, di tengah kelelahan dan kesibukan melayani pendaftaran pasien, di tengah hiruk pikuk omelan, gerutuan dan makian dari mereka yang tidak sabar, saya melihat senyum dan keramahan para suster dan pegawai yang tetap melayani dengan prima. Ketika tiba pada giliran dipanggil ke konter pendaftaran, saya sempat bertanya kepada salah satu pegawai pria di sana, “Tidak capek Mas, menghadapi kesibukan dan sikap orang-orang yang negatif seperti itu?

Sudah biasa, Pak. Sabar saja. Mereka punya kebutuhan,” balasnya sambil menyerahkan dokumen pengantar kepada saya untuk diserahkan ke ruangan dokter. ”Terimakasih dan cepat sembuh ya Pak.

Mereka punya kebutuhan. Sabar saja. Frasa itu sempat terngiang berkali-kali. Bagi saya ini suatu spiritualitas unik, dalam pekerjaan yang menuntut kita berhadapan dengan kebutuhan manusia. Banyak hal yang bisa diperbaiki secara teknis dan sistem yang memungkinkan orang lebih efektif dilayani, tapi kita tidak akan pernah bisa melupakan atau menggantikan spiritualitas pelayan yang demikian.

Berjalan meninggalkan konter pendaftaran rumah sakit itu, saya bersyukur kepada Tuhan. Satu setengah jam menunggu ternyata tidak sia-sia. Ada pengalaman indah yang saya dapatkan dan pelajaran iman yang saya petik.

Penulis: Pdt. Samuel Wiratama

Ilustrasi: penaone

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.