Habis manis, apakah sepah dibuang?” Ini menjadi pertanyaan reflektif yang perlu dimunculkan setelah “pesta gerejawi” dalam wujud Sidang Raya XVII Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) usai penyelenggaraannya di Waingapu, Sumba Timur. Ketika keramaian para utusan dari seluruh sinode anggota PGI tidak lagi dirasakan oleh masyarakat Sumba, ada pemikiran dalam Rapat Kerja BPMS GKI agar GKI berbuat sesuatu yang fungsional bagi mereka.

Semangat ini sejalan dengan visi ekumenis GKI yang mewujud dalam lingkup organisasional (lewat wadah PGI) maupun kerjasama multilateral (dengan gereja-gereja dari sinode lain).

Di satu sisi, kiprah ekumenis GKI dalam lingkup organisasional (lewat wadah PGI) bukanlah demi kekuasaan. Oleh karena itu, GKI sebagai gereja yang terbuka, memegang integritas dan ketulusan dalam pelayanan, menghormati dan menerima hasil pemilihan ketua umum PGI, di mana Pdt. Albertus Patty yang direkomendasikan oleh Sinode GKI sebagai calon Ketua Umum PGI pada akhirnya tidak terpilih.

Di sisi lain, GKI senantiasa menghidupi panggilan untuk melakukan kerjasama ekumenis. Salah satu yang menjadi pemikiran adalah bersinergi dengan gereja-gereja di Kalimantan agar siap menghadapi ekses yang mungkin akan dihadapi oleh masyarakatnya (sebagai lokasi ibu kota yang baru) dan juga dengan gereja-gereja yang ada pada kantong-kantong kemiskinan di basis kekristenan di Indonesia.

Raker BPMS juga menyadari bahwa visi ekumenis GKI tersebut, perlu ditindaklanjuti dan didukung oleh jemaat-jemaat (secara jangka panjang) dalam rangka menyiapkan kader-kader ekumenis GKI agar dapat berkiprah secara ekumenis (baik dalam lingkup organisasional maupun multilateral).

Hal lain yang dibahas adalah mengenai kader dan kependetaan. Raker BPMS mengingatkan ulang tentang diperlukannya sebuah strategi pengembangan sinode yang perlu disiapkan oleh BPMS, berkaitan dengan kependetaan dan jemaat-jemaat yang menyangkut : evaluasi terhadap pelaksanaan Pendidikan Persiapan Kependetaan (yang mencakup Bina Kader, Belajar Bersama dan Praktik Jemaat) agar tidak menyentuh aspek kognitif belaka, tetapi juga dapat membekali kader secara utuh (mencakup aspek afektif, moral, spiritualitas dsb.).

Pada saat yang sama, jemaat-jemaat pun perlu mempersiapkan diri untuk dapat bertumbuh bersama dengan kader sehingga dapat menghidupi dan menghayati persekutuan sebagai sebuah komunitas spiritual.

Masih terkait dengan kader kependetaan GKI, mengingat kebutuhan pengembangan pelayanan dari Jemaat-jemaat GKI, maka kita perlu memikirkan konsep untuk mempertemukan (link and match) antara kebutuhan pengembangan pelayanan jemaat dengan ketersediaan SDM yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, GKI perlu mempersiapkan diri seiring dengan perubahan zaman yang menuntut GKI untuk merespons kebutuhan pelayanan berbasis kategorial.

Salah satu bentuk kesatuan dalam tubuh GKI adalah kesepakatan untuk memperlakukan para kader (calon pendeta) sebagai kader GKI, bukan sebagai kader suatu sinode wilayah. Oleh karena itu, pembahasan tentang penempatan kader tidak lagi dilandasi oleh ego sektoral dari suatu sinode wilayah. Di sinilah semangat kebersamaan dan kesediaan memedulikan kepentingan yang lebih luas teruji.

Ada sejumlah kader yang dibahas penempatannya untuk masuk ke jemaat-jemaat sesuai dengan skala prioritas. Kita perlu mendoakan agar penempatan kader ini pada gilirannya bisa seiring sejalan dengan kehendak Allah bagi jemaat-jemaat-Nya; dalam arti ada kesesuaian chemistry di antara kader dan jemaat yang membutuhkan pelayanan dari seorang kader.

Pada Raker BPMS ini, kami mengajak jemaat-jemaat untuk dapat menyadari kembali bahwa GKI berada pada tradisi yang menerima baik laki-laki maupun perempuan sebagai pemimpin-pelayan di tengah-tengah jemaat. Hal ini kami sampaikan mengingat lebih banyak jemaat yang mengajukan kebutuhan kader laki-laki daripada perempuan.

Proses mutasi kependetaan juga memiliki dinamikanya sendiri. Dalam hal ini, para pihak (seperti: jemaat yang mencari pendeta baru, pendeta yang terbuka untuk menjalani mutasi, klasis dan sinode wilayah yang menaungi) harus sungguh-sungguh mencari kehendak Allah sekaligus menghargai proses pencarian kehendak Allah tersebut.

Akhir kata, hidup menggereja yang gembira bukan sekadar slogan. Menggereja yang gembira adalah kesediaan setiap anggota gereja, yang dalam konteks Raker BPMS adalah setiap utusan, untuk berproses dan berdialog, terbuka untuk mencari kehendak Allah dalam setiap pengambilan keputusannya.

Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh” (2 Petrus 1 : 10a).

Magelang, 20-21 November 2019

Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia

Pdt. Handi Hadiwitanto (Ketua Umum) – Pdt. Danny Purnama (Sekretaris Umum)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.